REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat dilaporkan berencana mempercepat penarikan pasukan dari sejumlah pangkalan militernya di Eropa. Jika terealisasi, langkah ini tidak sekadar menjadi penyesuaian militer biasa, melainkan sinyal bahwa Washington sedang mengubah prioritas strategisnya secara mendasar, dari Eropa menuju Indo-Pasifik.
Laporan surat kabar Jerman Welt am Sonntag menyebutkan AS akan mempresentasikan rencana tersebut kepada sekutu-sekutunya dalam NATO bulan depan. Sebelumnya, Washington telah mengumumkan penarikan 5.000 tentara dari Jerman, negara yang selama puluhan tahun menjadi pusat kekuatan militer Amerika di Eropa.
Jerman saat ini menampung sekitar 35.000 personel militer AS aktif, jumlah terbesar di benua Eropa. Karena itu, setiap pengurangan kehadiran militer Amerika di negara tersebut akan dipandang sebagai perubahan besar dalam arsitektur keamanan yang telah menopang Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Namun yang membuat perkembangan ini semakin penting adalah konteks politik di baliknya.
Pemerintahan Presiden Donald Trump semakin terbuka mempertanyakan mengapa Amerika harus terus menanggung sebagian besar beban pertahanan negara-negara sekutunya. Menteri Perang Pete Hegseth bahkan menyampaikan pesan yang sangat jelas dalam Dialog Shangri-La di Singapura.
“Era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Kita membutuhkan mitra, bukan protektorat. Kita mencari aliansi yang dibangun atas dasar tanggung jawab bersama, bukan ketergantungan,” kata Hegseth, sebagaimana diberitakan sejumlah kantor berita Barat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isu ini bukan semata-mata soal jumlah pasukan, melainkan tentang cara Washington memandang NATO di masa depan. Selama beberapa dekade, Amerika menjadi penjamin utama keamanan Eropa. Kini, pemerintahan Trump tampak ingin mengakhiri pola hubungan yang dianggap terlalu membebani pembayar pajak AS.
Dorongan itu juga berkaitan erat dengan ambisi Washington menghadapi kebangkitan Tiongkok. Dalam pidatonya, Hegseth menghubungkan peningkatan pengeluaran pertahanan sekutu dengan strategi AS untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya ke kawasan Indo-Pasifik guna menghadapi apa yang disebutnya sebagai "hegemoni" Tiongkok.
Artinya, semakin sedikit sumber daya yang dikeluarkan Amerika untuk menjaga Eropa, semakin besar kemampuan Washington memusatkan perhatian pada persaingan strategis dengan Beijing.
Perselisihan mengenai beban pertahanan sebenarnya bukan isu baru. Pada 2014, anggota NATO sepakat mengalokasikan minimal 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan. Namun selama bertahun-tahun banyak negara Eropa gagal memenuhi target tersebut.

4 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·