Ahli Desak Kota Beradaptasi Hadapi Ancaman Panas Ekstrem

2 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Executive Director Rujak Center for Urban Studies Elisa Sutanudjaja menyampaikan bahwa ancaman pemanasan global yang dipicu oleh kenaikan suhu akibat perubahan iklim, risiko paparan panas juga diperparah oleh fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan yang membuat suhu di kawasan kota lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.


Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut terjadi karena kota-kota dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi material seperti beton dan aspal yang menyerap sekaligus menyimpan panas lebih lama.


Elisa menegaskan bahwa upaya menghadapi suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Desain rumah, lingkungan, hingga tata kota menjadi faktor penting yang menentukan tingkat paparan panas yang diterima masyarakat.


"Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan,” ujarnya dalam Webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino pada Kamis (9/7/2026).


Ia menjelaskan, fenomena tersebut muncul seiring ekspansi kawasan perkotaan yang tidak memperhatikan aspek iklim. Penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas menyebabkan suhu meningkat, sementara aliran angin menjadi lebih lambat sehingga panas terperangkap lebih lama.


“Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Di saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” ujar ahli arsitektur tersebut.


Elisa mendesak wilayah kota perlu melakukan adaptasi melalui desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim dan panas ekstrem. Langkah yang dapat diterapkan antara lain menggunakan konsep passive cooling, memilih material yang tidak menyerap panas secara berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.


“Rumah ataupun tempat-tempat lainnya sebaiknya ditambahkan untuk vegetasi, karena vegetasi ini bisa menurunkan suhu walau secara mikro di rumah mereka, tapi ini berdampak nyata,” katanya.


Ia menegaskan bahwa perbedaan kondisi lingkungan yang memiliki vegetasi dan yang minim ruang hijau dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.


“Jika membandingkan kampung yang setiap rumahnya ada vegetasi dan ruang terbuka hijaunya, dengan yang tidak ada, pasti akan terasa seperti lebih panas,” tuturnya.

Baca Artikel Selengkapnya