Abu Vulkanik Membahayakan Paru-Paru, Ini Cara Mencegah Dampaknya

7 jam yang lalu 2

Jakarta, NU Online

Abu vulkanik bukan sekadar material yang mengganggu jarak pandang dan mengotori lingkungan. Partikel yang terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru-paru, terutama ketika masyarakat berada di wilayah terdampak dalam waktu lama atau berulang.

Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Ahmad Fikri Syadzali, menyampaikan bahwa abu vulkanik memiliki komposisi yang beragam, seperti silika dan kaca vulkanik. Material tersebut dapat memengaruhi saluran pernapasan ketika berkontak dengan mukosa.

“Material ini bisa mempengaruhi saluran napas. Ketika material ini kontak dengan mukosa saluran napas, dapat menyebabkan iritasi, inflamasi, batuk, peningkatan produksi mukus, dan bronkokonstriksi,” ujarnya kepada NU Online, Sabtu (19/9/2026).

Ia menjelaskan, tingkat dampak paparan abu vulkanik dipengaruhi ukuran partikel, komposisi mineral atau kaca vulkanik, konsentrasi, serta lamanya paparan. Partikel berukuran kurang dari 10 mikrometer (PM10) dapat masuk melewati saluran napas atas hingga bronkus. Sementara itu, partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2,5) dapat mencapai bronkiolus dan alveolus, yaitu bagian paru-paru yang berperan dalam pertukaran oksigen.

“Semakin kecil partikelnya semakin dalam penetrasinya. Hal ini juga menyebabkan semakin sulit untuk dikeluarkan,” tuturnya.

Ahmad menyampaikan bahwa inflamasi akibat abu vulkanik dapat merusak epitel bronkus maupun alveolus, meningkatkan permeabilitas vaskular, serta menyebabkan edema atau peradangan pada saluran pernapasan.

“Kondisi tersebut juga dapat memicu hipersekresi mukus dan bronkokonstriksi,” katanya.

Ia menjabarkan bahwa pada paparan jangka pendek, keluhan yang umum terjadi meliputi iritasi saluran pernapasan, batuk, tenggorokan terasa gatal atau perih, hidung berair atau tersumbat, peningkatan produksi dahak, sesak napas, dan napas berbunyi atau mengi.

Sementara itu, paparan yang berulang atau dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan peradangan saluran pernapasan yang berlangsung lebih lama. Dalam kondisi tertentu, paparan terus-menerus juga dapat menyebabkan gangguan fungsi paru.

“Salah satu kandungan dari abu vulkanik adalah silika. Pada paparan jangka panjang atau inflamasi berulang dapat menyebabkan silikosis paru maupun kanker paru,” jelasnya.

Ahmad mengatakan meski setiap orang dapat mengalami dampak paparan abu vulkanik, terdapat kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi karena saluran pernapasannya lebih sensitif, fungsi paru belum berkembang sempurna, fungsi paru sudah menurun, atau memiliki penyakit sebelumnya yang dapat diperburuk oleh paparan partikel dan gas vulkanik.

“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit respirasi atau kardiovaskular sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pencegahan paparan abu vulkanik yang bertujuan mengurangi jumlah abu yang terhirup, mengurangi lamanya paparan, serta mencegah abu masuk atau terakumulasi di dalam rumah.

Ahmad mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di wilayah terdampak. Penggunaan kacamata pelindung juga diperlukan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik. Selain itu, masyarakat perlu menghindari berkendara ketika hujan abu berlangsung berat.

“Sementara itu, ketika berada di dalam rumah, masyarakat perlu menutup pintu dan jendela, serta mengurangi infiltrasi udara dari luar untuk mencegah abu masuk ke ruangan. Tubuh dan pakaian juga perlu dibersihkan setelah terpapar. Selain itu, sumber makanan dan air harus tetap terlindungi dari kontaminasi abu vulkanik,” tegasnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala serius setelah terpapar abu vulkanik, terutama jika mengalami keluhan pernapasan. Tanda bahaya yang perlu diperhatikan meliputi sesak napas berat atau yang semakin memburuk, penurunan saturasi oksigen hingga di bawah 92 persen, serta sianosis yang ditandai dengan perubahan warna kulit dan bibir menjadi kebiruan.

“Apabila sudah mengalami tanda-tanda tersebut, perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Penanganan cepat dalam hal ini penting untuk mencegah kondisi pernapasan semakin buruk,” pungkas Ahmad.

Baca Artikel Selengkapnya