Setelah Hadiahi Trump Jet Mewah, Qatar Kini Terjepit Perang Iran dan Krisis Hormuz

47 menit yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lebih dari setahun setelah Qatar menyerahkan sebuah Boeing 747-8 mewah kepada Amerika Serikat (AS) untuk digunakan Presiden Donald Trump sebagai Air Force One, negara Teluk itu kini menghadapi tekanan ekonomi dan keamanan yang berat akibat perang melawan Iran. Pukulan terhadap fasilitas gas Qatar dan terganggunya Selat Hormuz telah menekan ekspor LNG, sumber utama kekayaan Doha, sekaligus menunjukkan betapa rentannya negara itu terhadap konflik yang melibatkan sekutu terpentingnya, AS.

Pada Selasa (25/8/2026), Trump menyatakan semua ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. Namun Reuters pada Rabu, 26 Agustus 2026, melaporkan sebagian besar aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut masih terhenti, sementara Iran dan Oman baru membicarakan pembentukan “koridor navigasi sementara” dan sebuah tanker kembali terkena proyektil di dekat pintu masuk selat.

Bagi Qatar, kondisi Hormuz sangat menentukan karena tidak seperti sejumlah negara Teluk lainnya, seluruh kargo LNG-nya harus keluar melalui selat tersebut untuk mencapai pasar dunia. Reuters melaporkan aliran LNG dari Qatar sepanjang perang telah jatuh lebih dari 60 persen dibandingkan setahun sebelumnya, berdasarkan data Kpler.

Kontras itulah yang kemudian diangkat The Atlantic dalam artikel karya Shane Harris pada Selasa, 25 Agustus 2026. Harris mempertanyakan keuntungan yang diperoleh Doha setelah memberikan pesawat mewah kepada pemerintahan Trump, ketika beberapa bulan kemudian Qatar justru menjadi salah satu negara Teluk yang paling terpukul oleh perang dengan Iran.

Namun satu batas penting perlu ditegaskan: belum ada bukti bahwa pemberian pesawat tersebut merupakan transaksi untuk memperoleh jaminan keamanan tertentu dari Trump, ataupun bahwa keputusan Washington dalam perang Iran berkaitan dengan pemberian jet itu. Pemerintah Qatar sejak awal membantah tudingan bahwa pesawat tersebut diberikan untuk membeli pengaruh di Washington.

Jet Mewah yang Memicu Kontroversi

Pentagon secara resmi mengumumkan pada Rabu, 21 Mei 2025, bahwa AS telah menerima Boeing 747-8 dari Qatar. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menerima pesawat tersebut untuk kemudian dimodifikasi dan digunakan sebagai salah satu pesawat Air Force One Trump.

Reuters ketika itu menyebut pesawat tersebut sebagai jet senilai sekitar 400 juta dolar AS, meskipun nilai pasar pesawat bekas bisa jauh lebih rendah daripada harga daftar pesawat baru. Pesawat berusia sekitar 13 tahun itu sebelumnya digunakan keluarga kerajaan Qatar dan memiliki interior mewah.

Trump sejak awal membela penerimaan pesawat tersebut. Dalam pernyataan yang diberitakan Reuters pada Selasa, 13 Mei 2025, Trump mengatakan, “Saya pikir ini adalah gestur yang hebat dari Qatar. Saya sangat menghargainya.”

Trump juga mengatakan akan “bodoh” jika menolak pesawat mahal yang diberikan secara gratis kepada pemerintah AS. Ia menegaskan dirinya tidak berencana menggunakan jet tersebut untuk kepentingan pribadi setelah meninggalkan Gedung Putih dan mengatakan pesawat akhirnya akan diberikan kepada perpustakaan kepresidenannya.

Pemberian itu langsung memicu kritik dari anggota Kongres AS dan kelompok pengawas etika karena nilai pesawat yang luar biasa besar serta pertanyaan mengenai penerimaan hadiah dari pemerintah asing. Gedung Putih menegaskan setiap pemberian dari pemerintah asing akan diterima sesuai hukum yang berlaku, sementara Pentagon mengatakan aspek keamanan dan kebutuhan misi akan diperhitungkan dalam modifikasi pesawat.

Baca Artikel Selengkapnya