Serang Beirut, Israel Coba Gagalkan Gencatan Senjata AS-Iran

3 minggu yang lalu 17

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump melansir pada Ahad bahwa Washington “sangat dekat” untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Hanya beberapa jam kemudian, Israel melancarkan serangan ke Beirut dan memicu balasan Iran.

Kata Trump, dalam kesepakatan yang hampir diteken itu ia berupaya untuk memastikan negaranya tidak bisa mendapatkan senjata nuklir. “Saya akan memastikannya secara permanen,” katanya dalam acara “Meet the Press” di NBC News, mengacu pada ancaman nuklir.

“Entah saya akan melakukannya melalui negosiasi – saat kita hampir mencapai kesepakatan – atau saya akan meledakkannya, jujur saja.”

Patut dicatat bahwa Iran sejauh ini belum terbukti berupaya mengembangkan senjata nuklir. Negara Islam itu juga sebelumnya memiliki kebijakan tak akan mengembangkan bom nuklir. Justru serangan AS-Israel pada Februari lalu yang disebut berpotensi mengubah sikap tersebut.

Trump jig mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu “tidak punya pilihan lain” selain menerima perjanjian apa pun yang mungkin dicapai Washington dengan Iran. "Dia tidak punya pilihan lain," kata Trump kepada media tersebut.

“Saya yang mengambil keputusan. Saya yang mengambil keputusan. Dia (Netanyahu) bukan yang mengambil keputusan.”

Wawancara dengan Trump tersebut direkam sebelum konflik meningkat secara besar-besaran pada hari itu juga. Dengan dalih menghabisi Hizbullah, Israel melancarkan serangan udara di pinggiran selatan Beirut, yang selama ini jarang mereka sasar karena dicegah Trump. Beberapa jam kemudian, Iran langsung menyerang Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata 8 April.

IRGC mengatakan mereka menerima gencatan senjata dengan AS dengan syarat bahwa itu adalah “gencatan senjata di semua lini”. Namun dikatakan bahwa AS dan Israel telah gagal memenuhi komitmen mereka dengan melancarkan serangan di Lebanon dan “melanggar gencatan senjata dengan berulang kali menyerang pantai dan kapal Iran di Selat Hormuz, Laut Oman dan Samudera Hindia”.

AS telah mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan melakukan serangkaian serangan terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir, meskipun negosiasi terus berlanjut menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang.

“Operasi malam ini merupakan sebuah peringatan,” kata IRGC dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa, “jika agresi terulang kembali, respons yang akan diberikan akan lebih luas”.

Baca Artikel Selengkapnya