Saatnya NU Serius Menggarap Turats Sunda

39 menit yang lalu 1

Pada momen Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 di Tambakberas penting untuk mengingat kembali posisi NU sebagai organisasi yang sangat lekat dengan turats berupa kitab kuning. Hal ini cukup menggembirakan karena di arena muktamar ternyata ditandai pula dengan serangkaian acara yang terkait dengan turats, seperti pameran, seminar dan pelatihan tahqiq.


Mengapa isu turats sangat penting bagi NU? Salah satunya karena organisasi ini lahir membawa misi menjaga tradisi baik di masa lalu, selain tentu saja menerima pembaharuan di tengah arus perubahan.


Turats merupakan bagian dari tradisi literasi yang diwariskan berabad-abad. Meski baru didirikan tahun 1926, tetapi sebagai ormas yang lahir dari rahim para ulama pesantren, NU diyakini sebagai pewaris dan penjaga turats paling kuat di Indonesia. Terbukti ormas ini mampu memelihara kesinambungannya yang sudah berlangsung selama ribuan tahun, dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sekarang.


Di tangan warga NU, turats menjadi penanda tradisi literasi yang terus hidup sepanjang hayat. Memperkokoh jejaring keilmuan, menjalin ikatan antarulama, membangun genealogi kitab dan tradisi intelektual yang terus tumbuh. Turats pula yang merekam terjadinya pergeseran media literasi kiai-santri, dari manuskrip tulis tangan ke kitab cetak, lalu ke kitab digital.


Karenanya, posisi turats tentu saja sangat istimewa bagi warga NU. Ia tidak hanya menjadi sarana pewarisan keilmuan dari kiai ke santri, tetapi juga pembentukan identitas jamaahnya yang dibentuk dalam sub-kultur pesantren. Tanpa turats, tak ada identitas intelektual NU. Para kiai dan santri terbiasa membaca dan menghafal matan kitab kuning, memberikan makna gandhul, menyusun syarah dan hasyiyah, mentahqiq, mempublikasikannya hingga memperbincangkannya di forum bahtsul masa’il.


Di sini, tradisi turats mencerminkan jejaring keilmuan Islam tradisional yang sangat panjang. Setidaknya sejak abad ke-13 mengiringi arus Islamisasi di negeri bawah angin. Terbentang dari Hijaz, Mesir, Yaman, India, Sri Lanka hingga Melayu-Nusantara. Kawasan kepulauan tempat tinggal ragam etnis dan budaya menghiasi perjalanan Islam hingga sekarang.


Namun, di tengah kesemarakan isu turats di arena muktamar NU, satu hal dapat dijadikan catatan. Perlunya meningkatkan perhatian serius pada khasanah turats yang masih tercecer, berupa puzzle, salah satunya turats di tatar Sunda. Di tengah peningkatan minat kajian turats selama satu dekade terakhir, kiranya turats Sunda belum banyak dijadikan perhatian oleh warga NU. Dibanding turats berbahasa Melayu dan Jawa, minat mereka atas turats ulama Sunda terbilang masih minim. Ini bukan berarti disebabkan oleh kultur NU di Sunda berbeda dengan NU di Jawa dan kawasan lain di Nusantara.


Hasil penelusuran saya, kitab turats Sunda, sebagaimana di Jawa, juga cukup banyak jumlahnya. Mungkin ratusan hingga ribuan. Para ulama Sunda menyalin, menerjemahkan, merangkum, mensyarahi kitab dan mengajarkannya. Mereka kebanyakan menulisnya dalam huruf Pegon berbahasa Sunda. Bahkan sebagiannya diterbitkan oleh sejumlah penerbit terkenal seperti Penerbit al-Mishriyyah milik ‘Abdullah bin ‘Afif Cirebon, Sayyid Muḥammad bin ʿAlī al-ʿAidarūs di Jakarta, Maʿhad al-Salafiyah Sukabumi, bahkan ada pula yang diterbitkan di Singapura, Bombay dan Mesir.


Beberapa nama dapat disebutkan di sini, seperti Baing Yusuf Purwakarta (w. 1854), Ahmad Syatibi (Mama Gentur Cianjur) (1837–1946), Muhammad Kurdi (Mama Cibabat Cimahi) (1839–1954), Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur Purwakarta) (1851–1975), Haji Hasan Mustapa (1852–1930), Syekh Mukhtār ʿAṭārid Bogor (1862–1930), Ajengan Muhammad Hasan Basri Sukabumi (w. 1948), Muhammad Nuh Cianjur (1879–1966), Mama Muhyiddin Pagelaran (Purwakarta, Subang) (1882–1973), Haji Muhammad Basuni bin Muhammad Sadali (?),  Ahmad Dimyati Sukamiskin (1886–1946), Ahmad Sanusi Sukabumi (1888–1950), Badruzzaman (Mama Biru Garut) (1900–72) dan Ma′mun Nawawi Cibarusah (1912–75), KH Ahmad Makkī Sukabumi (w. 2022).


Bagi saya, para ulama Sunda dan karya turats mereka mencerminkan kuatnya tradisi keilmuan Islam Ahlusunnah wal-Jamaah. Ia menjadi bagian dari perwujudan jaringan intelektual Timur Tengah dan Melayu-Nusantara. Jaringan yang berlangsung tidak satu arah, melainkan terjadi arus timbal balik antar dua kawasan. Para ulama Sunda yang mayoritas merupakan ulama NU Sunda tidak hanya mendapatkan pengaruh dari tradisi intelektual Timur Tengah, tetapi juga mengembangkannya. Mereka menerjemahkan, mengomentari dan menyusun ulang berbagai kitab keilmuan Islam ke dalam bahasa Sunda.


Di sini terjadi pertumbuhan jaringan transregional Islam antara Timur Tengah dan Melayu-Nusantara melalui kitab Arab yang tidak hanya disalin secara pasif, tetapi juga secara aktif dijadikan sumber rujukan dan dikomentari oleh ulama Sunda. Ini merupakan bentuk timbal balik dalam jaringan transregional Islam antara dua kawasan tersebut.


Dilihat dari isu bahasa dan budaya Sunda, di tengah kekhawatiran ancaman semakin tergerusnya bahasa Sunda, keberadaan kitab karya ulama Sunda tersebut menyiratkan pentingnya posisi institusi keagamaan sebagai salah satu alternatif kelembagaan budaya Sunda. Pesantren dan literatur keislaman turut terlibat dalam pembentukan konsfigurasi sastra dan bahasa Sunda. Para sastrawan Sunda kerap kali menuangkan karyanya yang mencerminkan pengalaman hidup dan keluasan bacaannya yang bersumber dari literasi pesantren. 


Karenanya, jika orang Sunda seringkali mengeluh soal kemerosotan penggunaan bahasa Sunda, pesantren sebagai penjaga literasi Islam Sunda sudah sejak lama terlibat aktif dalam pemeliharaannya. Pasca kehancuran Kerajaan Sunda tahun 1579, masyarakat Sunda tidak lagi memiliki pusat kebudayaan dan agama, maka pesantren menjadi salah satu institusi paling kuat yang berfungsi sebagai sub-kultur Islam Sunda.


Secara lebih luas, kitab turats Pegon Sunda menandai pembentukan kesadaran keislaman kalangan pesantren dalam jejaring intelektual yang dibungkus dengan latar etnisitas. Ia merekam dinamika budaya keislaman dan kesundaan di tengah perubahan arus politik, dari perlawanan kultural atas kolonial hingga terbentuknya ikatan nasionalisme yang kuat mendorong pembentukan sebuah komunitas terbayang yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia.


Namun, di tengah tantangan modernisasi dan Latinisasi aksara pada masa belakangan yang berakibat pada kemerosotan peredaran kitab Pegon, tapi bagaimanapun kehadiran kitab ulama Sunda tersebut meninggalkan simbol identitas komunal dan keagamaan bagi masyarakat pesantren hingga sekarang. Sebuah kontribusi warisan ulama Sunda bagi terjalinnya hubungan transregional Islam dan kerjasama lintas budaya yang terus hidup hingga sekarang.


Akhirnya, selamat melaksanakan Muktamar NU ke-35, jaya terus turats Nusantara!


Jajang A Rohmana, Rektor Universitas Persatuan Islam, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pengkaji turats Sunda

Baca Artikel Selengkapnya