Perbanas: Konsisten bangun dana murah kunci di tengah likuiditas ketat

2 jam yang lalu 2
perbankan perlu menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif dan produktif dengan memprioritaskan sektor-sektor produktif

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menekankan bahwa konsistensi perbankan dalam membangun dana murah, yakni tabungan dan giro, menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan dalam menghadapi ketatnya likuiditas.

Di samping itu, ia juga menegaskan pentingnya menjaga disiplin manajemen aset dan liabilitas di tengah likuiditas yang menyempit.

“Ketahanan likuiditas adalah non-negotiable,” kata Hery yang juga merupakan Direktur Utama BRI dalam acara Mid Year Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat.

Selain menjaga likuiditas, Hery mengatakan perbankan perlu menerapkan strategi penyaluran kredit yang lebih selektif dan produktif dengan memprioritaskan sektor-sektor produktif.

Hal ini dilakukan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent), menetapkan risk appetite sektoral yang sesuai dengan kondisi makroekonomi terkini, serta membangun pipeline kredit berkualitas melalui pendekatan ekosistem yang lebih komprehensif.

Hery juga menekankan pentingnya pengelolaan kualitas aset secara proaktif melalui proses underwriting yang ketat, sistem early warning yang lebih granular, serta kesiapan fungsi penagihan (collection readiness) apabila kualitas kolektibilitas mulai menurun.

Baca juga: Perbanas: Perlu revitalisasi model bisnis UMKM untuk tumbuhkan kredit

Baca juga: Perbanas sebut 88 persen UMKM masih gunakan dana pribadi

Selain itu, akselerasi transformasi digital dan pemanfaatan analitik data dinilai bukan lagi sekadar strategi jangka menengah, melainkan telah menjadi kebutuhan bisnis bagi industri perbankan saat ini.

Seiring dengan kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei-Juni 2026, Hery mengatakan kondisi tersebut secara struktural akan meningkatkan tekanan repricing dana pihak ketiga (DPK).

Kenaikan suku bunga simpanan yang terjadi belakangan juga diperkirakan akan menekan net interest margin (NIM) perbankan.

Ia menambahkan bahwa cost of fund perbankan juga diperkirakan cenderung meningkat sehingga disiplin dalam pengelolaan bisnis menjadi kunci. Menurutnya, industri perbankan kini memasuki era selective growth atau pertumbuhan yang lebih selektif.

Meski secara umum industri perbankan masih tergolong solid, ia menilai mulai muncul sejumlah tekanan. Pertumbuhan DPK mulai melambat, NIM terkompresi, dan rasio kecukupan modal (CAR) sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

“Dengan kata lain, perbankan masih kuat, tetapi operating environment perbankan sekarang menjadi cukup challenging,” kata Hery.

Sementara dari sisi penyaluran kredit, nilai undisbursed loan juga masih cukup besar. Menurutnya, fokus perbankan tidak cukup hanya pada pemberian persetujuan fasilitas kredit, tetapi juga harus mendorong agar plafon kredit yang telah disetujui benar-benar dimanfaatkan debitur untuk ekspansi usaha.

Hery juga melihat adanya paradoks di industri perbankan. Di satu sisi, standar pemberian kredit semakin longgar sehingga bank menjadi lebih akomodatif dalam menyalurkan pembiayaan. Namun di sisi lain, permintaan kredit baru justru mengalami penurunan sebagaimana ditunjukkan dalam hasil Survei Perbankan oleh Bank Indonesia pada triwulan I 2026.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit juga belum merata antar kelompok bank. Bank KBMI 3 dan KBMI 4 masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit industri, sementara KBMI 1 dan KBMI 2 menunjukkan tren yang lebih volatil, bahkan sebagian masih mencatatkan pertumbuhan negatif.

Jika dilihat berdasarkan segmen, ia mencatat penurunan permintaan kredit paling tajam terjadi pada kredit modal kerja, kredit konsumsi, dan kredit UMKM khususnya KUR. Ketiga segmen tersebut dinilai paling sensitif terhadap pelemahan daya beli, sentimen dunia usaha, serta ketidakpastian ekonomi.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kualitas aset juga harus terus dijaga. Meskipun rasio loan at risk (LAR) perbankan pada awal 2026 menunjukkan tren penurunan secara bertahap, kenaikan BI-Rate, pelemahan nilai tukar rupiah, dan tekanan terhadap daya beli berpotensi membalikkan tren positif tersebut apabila tidak direspons dengan tepat.

Karena itu, menurut Hery, setiap bank juga perlu memiliki watch list debitur yang berpotensi terdampak pelemahan nilai tukar, disertai strategi mitigasi yang siap dieksekusi sebelum permasalahan berkembang lebih besar.

Baca juga: Perbanas luncurkan UMKM Center untuk tingkatkan UMKM agar naik kelas

Baca juga: Perbanas: Bank tetap solid di tengah dinamika ekonomi global-domestik

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya