Libur Sekolah, Psikolog Tekankan Keseimbangan Pengembangan Diri dan Bermain bagi Anak

1 jam yang lalu 1

Jakarta, NU Online

Tren orang tua mengikutkan anak ke berbagai kelas pengembangan diri selama libur sekolah dinilai mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya mengembangkan potensi anak. Namun, psikolog mengingatkan agar antusiasme tersebut tidak mengorbankan kebutuhan anak untuk beristirahat, bermain, dan menikmati masa kecilnya.


Psikolog Windy Rainata mengatakan, fenomena tersebut dipengaruhi oleh dua faktor. Di satu sisi, semakin banyak orang tua yang menyadari bahwa perkembangan anak tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga mencakup aspek kognitif, sosial, emosional, kreativitas, dan keterampilan hidup (life skills).


"Menurut saya, keduanya bisa terjadi. Di satu sisi, semakin banyak orang tua yang memiliki awareness bahwa perkembangan anak bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga mencakup perkembangan kognitif, sosial, emosional, kreativitas, dan life skills," ungkap Windy kepada NU Online, Selasa (30/6/2026).


Di sisi lain, ia menilai masih ada pengaruh social comparison, yakni kecenderungan orang tua membandingkan perkembangan anaknya dengan anak lain. Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa anak akan tertinggal apabila tidak mengikuti banyak kelas tambahan.


Padahal, menurut Windy, setiap anak memiliki tugas perkembangan, potensi, dan tempo belajar yang berbeda. Karena itu, yang lebih penting bukanlah banyaknya kelas yang diikuti, melainkan kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan dan minat anak.


Ia menambahkan, masa libur sekolah memang menjadi waktu yang tepat bagi anak untuk mengikuti kelas pengembangan diri karena memiliki kesempatan lebih longgar untuk mengeksplorasi minat dan bakat.


"Libur sekolah memang bisa menjadi waktu yang baik karena anak memiliki waktu lebih longgar untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya," imbuhnya.


Menurut Windy, aktivitas tersebut dapat membantu anak memperoleh pengalaman baru sekaligus meningkatkan rasa percaya diri. Namun, fungsi liburan bukan hanya untuk belajar, melainkan juga menjadi waktu pemulihan dari rutinitas sekolah.


Dalam perspektif psikologi, bermain bebas, tidur yang cukup, serta menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga merupakan bagian penting dari regulasi emosi dan pemulihan mental. Oleh karena itu, mengikuti kelas selama liburan diperbolehkan selama jadwalnya tidak sepadat hari sekolah.


"Anak tetap membutuhkan waktu untuk menjadi anak-anak, yaitu bermain, beristirahat, dan menikmati masa kecilnya," terangnya.


Windy menjelaskan, kegiatan pengembangan diri yang sesuai dengan minat anak akan menumbuhkan motivasi intrinsik, yakni dorongan belajar yang muncul dari dalam diri, bukan karena paksaan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, kedisiplinan, serta keterampilan sosial.


Selain itu, anak juga belajar menghadapi tantangan secara sehat sehingga terbentuk resiliensi atau kemampuan bangkit ketika menghadapi kesulitan. Anak yang diberi kesempatan mengembangkan minatnya juga cenderung lebih menikmati proses belajar daripada sekadar mengejar hasil.


Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa jadwal liburan yang terlalu padat berpotensi menyebabkan kelelahan mental hingga burnout. Sama seperti orang dewasa, anak juga memiliki batas kemampuan fisik dan psikologis.


"Jika hampir setiap hari diisi berbagai kelas tanpa waktu istirahat yang cukup, anak dapat mengalami stres, kelelahan mental, bahkan burnout," paparnya.


Menurut Windy, stres pada anak tidak selalu ditunjukkan melalui tangisan atau keluhan. Sebagian anak justru mengalami gejala psikosomatis, seperti sakit kepala, sakit perut, mual, nafsu makan menurun, sulit tidur, cepat lelah, atau lebih sering sakit meskipun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya penyakit tertentu.


Selain gejala fisik, orang tua juga perlu mewaspadai perubahan perilaku, seperti anak menjadi lebih mudah marah, sering menangis, menarik diri, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit berkonsentrasi, atau mulai menolak mengikuti kelas.


Terkait pemilihan kelas, Windy menyarankan orang tua mempertimbangkan kesiapan anak dari sisi usia, kemampuan, dan kematangan emosi, bukan sekadar mengikuti tren.


Ia juga menekankan pentingnya memilih kelas sesuai minat anak. Anak yang belajar berdasarkan minat umumnya lebih antusias, lebih mampu bertahan menghadapi kesulitan, serta memiliki motivasi belajar yang lebih sehat.


Selain itu, orang tua perlu mengamati respons anak setelah mengikuti kelas. Kelas yang sesuai biasanya membuat anak merasa tertantang dengan cara yang menyenangkan, bukan justru tertekan.


Sebaliknya, apabila anak terus-menerus mengeluh sakit sebelum berangkat, tampak cemas, murung, mudah marah, atau kehilangan semangat, orang tua perlu mengevaluasi apakah kelas tersebut benar-benar sesuai atau justru menjadi sumber stres.


Pada akhirnya, kata Windy, tujuan pengembangan diri bukan membuat jadwal anak semakin padat, melainkan membantu mereka tumbuh secara optimal sesuai tahap perkembangannya.


"Sebagai psikolog, saya selalu mengingatkan orang tua bahwa menjaga kesejahteraan psikologis anak sama pentingnya dengan mengembangkan prestasi dan keterampilannya," tuturnya.


Senada, Dosen Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Maryam Alatas, menilai kelas tambahan dapat menjadi sarana mengembangkan keterampilan dan minat anak apabila dipilih sesuai usia dan kebutuhannya. Namun, ia mengingatkan bahwa masa liburan juga memiliki fungsi penting sebagai waktu pemulihan setelah menjalani aktivitas sekolah.


"Anak tetap membutuhkan waktu untuk bermain bebas, beristirahat, dan menikmati kebersamaan dengan keluarga. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan," ujar Maryam kepada NU Online, Selasa (30/6/2026).


Menurut Maryam, anak yang menikmati kelas tambahan umumnya terlihat antusias, aktif, dan mengikuti kegiatan karena memang tertarik. Sebaliknya, anak yang hanya memenuhi keinginan orang tua cenderung sering mengeluh, kurang bersemangat, atau mengikuti kegiatan karena merasa terpaksa.


Ia juga mengingatkan bahwa jadwal liburan yang dipenuhi aktivitas tanpa waktu istirahat yang cukup dapat meningkatkan risiko stres, kelelahan mental, dan penurunan motivasi.


"Jika liburan dipenuhi aktivitas tanpa waktu istirahat yang cukup, anak berisiko mengalami stres, kelelahan mental, dan penurunan motivasi. Padahal, masa libur juga dibutuhkan untuk memulihkan energi dan menjaga kesehatan psikologis," katanya.


Adapun tanda-tanda yang dapat diamati antara lain anak mudah marah, sering mengeluh, kehilangan semangat, sulit berkonsentrasi, menolak mengikuti kegiatan, cepat lelah, atau mengalami keluhan fisik seperti sakit kepala dan sakit perut tanpa penyebab medis yang jelas.


Menurut Maryam, risiko burnout cukup besar apabila anak terus menghadapi tuntutan tanpa memiliki waktu untuk bermain dan beristirahat. Kondisi tersebut dapat ditandai dengan kelelahan emosional, hilangnya minat belajar, serta menurunnya motivasi.


Karena itu, ia mengimbau orang tua tidak merasa seluruh waktu libur anak harus diisi dengan aktivitas belajar yang produktif. Orang tua sebaiknya melibatkan anak dalam memilih kegiatan sesuai minat dan bakatnya, memberikan ruang untuk bermain dan beristirahat, serta menikmati waktu bersama keluarga.


"Liburan yang berkualitas adalah liburan yang seimbang antara belajar dan bermain," pungkas Maryam.

Baca Artikel Selengkapnya