Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fenomena El Nino pada 2026 yang diprediksi mencapai kategori kuat berpotensi menyebabkan penumpukan polutan, memperburuk kualitas udara, serta meningkatkan risiko penyakit pernapasan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan wilayah perkotaan menjadi perhatian khusus karena tingginya emisi yang berasal dari berbagai aktivitas manusia.
"Untuk wilayah perkotaan, ini yang perlu kita waspadai terkait penumpukan polutan dari sumber lokal. Karena itu, perlu dilakukan pengendalian emisi kendaraan dan mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum," ujarnya di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Faisal menjelaskan, penurunan kualitas udara tersebut berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta berbagai gangguan kesehatan yang dipicu cuaca panas.
Ia juga menyoroti gelombang panas yang terjadi di sejumlah negara sebagai peringatan atas dampak perubahan kondisi atmosfer.
"Tentunya akan banyak potensi terjadinya infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Kemudian juga peningkatan penyakit akibat panas yang saat ini banyak diberitakan terjadi di Eropa, yaitu heatstroke," katanya.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG terus menyebarluaskan informasi kualitas udara melalui sistem prediksi dan peringatan dini berbasis particulate matter (PM2.5). Pemantauan terhadap partikulat halus tersebut dinilai penting karena dapat masuk ke saluran pernapasan hingga aliran darah sehingga membahayakan kesehatan.
"Sistem prediksi dan peringatan dini berbasis particulate matter 2.5. Jika terhirup manusia, partikel ini dapat masuk ke aliran darah dan cukup membahayakan," ujarnya.
Lebih lanjut, Faisal mengingatkan bahwa dampak El Nino juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan melalui terganggunya fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas pertanian, hingga meningkatnya risiko puso akibat defisit air.
Karena itu, ia meminta petani melakukan penyesuaian pola tanam, meningkatkan efisiensi pengelolaan irigasi, serta memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan sejak dini.
BMKG juga mengimbau pemerintah daerah memperkuat kapasitas fasilitas kesehatan, meningkatkan pemantauan kasus ISPA, serta menerapkan berbagai langkah mitigasi, seperti membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan mengembangkan kawasan rendah emisi.
"Kesiapsiagaan harus dilakukan secara lintas sektor. Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, hingga kesehatan masyarakat perlu diantisipasi sejak dini melalui koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan," pungkasnya.

3 jam yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·