KP2MI siap tingkatkan kompetensi pekerja migran lewat SMK Go Global

38 menit yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Mukhtarudin menegaskan kesiapan pemerintah untuk meningkatkan kompetensi calon pekerja migran Indonesia (PMI) melalui program SMK Go Global.

"SMK Go Global bukan sekadar program pelatihan. Ini adalah upaya pemerintah menyiapkan generasi muda Indonesia agar memiliki kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara global," kata Mukhtarudin saat meresmikan dimulainya program SMK Go Global di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta Timur, Rabu (26/8).

Melalui peningkatan kompetensi tersebut, para calon pekerja migran diharapkan mampu bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang layak di pasar kerja internasional, imbuhnya.

Menteri P2MI itu mengatakan program SMK Go Global bukan hanya terbatas untuk lulusan SMK saja tapi juga lulusan SMA dan Umum (termasuk SI dan S2), mereka dapat menjadi peserta pelatihan.

Program tersebut memberikan pelatihan up-skiling bagi para calon pekerja migran dengan target membentuk para peserta sehingga mereka siap untuk bekerja di luar negeri.

Program SMK Go Global merupakan bagian dari arahan Presiden untuk menyiapkan 500 ribu tenaga kerja, yang terdiri dari 300.000 calon PMI lulusan SMK, dan 200.000 CPMI lulusan umum.

Mereka diproyeksikan mengisi berbagai sektor pekerjaan yang memiliki kebutuhan tenaga kerja di pasar internasional, antara lain caregiver, welder, hospitality, nurse, truck driver, manufaktur, transportasi, pertanian, konstruksi, hingga sektor kelautan.

Negara tujuan yang diproyeksikan dalam program tersebut termasuk Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, kawasan Eropa, Turki, Taiwan, dan beberapa negara lainnya.

Penempatan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar kerja serta kondisi geopolitik dunia.

Program SMK Go Global dirancang secara komprehensif berdasarkan pemetaan sektor, jabatan, negara tujuan, kualifikasi, serta kebutuhan kompetensi nyata di pasar kerja luar negeri, sehingga calon pekerja migran dapat dibekali pelatihan terpadu yang mencakup penguatan kompetensi teknis, sertifikasi, serta pelatihan bahasa sesuai standar negara tujuan masing-masing.

Ekosistem pelatihan juga mencakup kompetensi teknis dan bahasa. Untuk beberapa jabatan. peserta mendapatkan pelatihan teknis dan sertifikasi kompetensi, sekaligus pelatihan bahasa sesuai negara tujuan.

"Pasar kerja global memiliki standar yang semakin tinggi. Karena itu, kurikulum dan pelatihan harus mengikuti kebutuhan industri. Kita tidak boleh menyiapkan tenaga kerja berdasarkan perkiraan semata, tetapi harus berdasarkan data kebutuhan pasar kerja," demikian kata Mukhtarudin.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya