Jakarta (ANTARA) - Duta Besar RI untuk Norwegia dan Islandia Teuku Faizasyah menyoroti kedekatan antara musik dan diplomasi saat Indonesian Cultural Night atau Malam Budaya Indonesia yang diadakan di Oslo, Senin (24/8), dalam rangkaian resepsi diplomatik Indonesia.
"Musik dan diplomasi sama-sama mengandalkan komunikasi verbal dan non-verbal, kemampuan untuk mendengarkan dengan saksama, dan menemukan harmoni di antara suara-suara yang berbeda untuk menjembatani perbedaan," kata Dubes Faizasyah dalam sambutannya, sebagaimana keterangan KBRI Oslo pada Selasa (25/8).
Menurut Faizasyah, keduanya sama-sama membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, memahami perbedaan, dan menemukan harmoni.
Faizasyah menilai semangat tersebut semakin relevan di tengah gejolak global, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi.
Situasi dunia saat ini, menurutnya, semakin menegaskan pentingnya membangun saling pengertian, menjaga dialog yang konstruktif, dan memperkuat kepercayaan antarnegara.
Dalam konteks bilateral, Dubes Faizasyah menegaskan bahwa Indonesia dan Norwegia memiliki fondasi kemitraan yang kuat berdasarkan keterbukaan, dialog, dan saling menghormati.
Sebagai dua negara demokrasi, keduanya juga memiliki komitmen terhadap demokrasi dan hak asasi manusia, serta pandangan yang sama mengenai pentingnya kerja sama multilateral dan penghormatan terhadap hukum internasional dalam menjawab berbagai tantangan global.
Menurut Faizasyah, kesamaan nilai tersebut menjadi modal penting untuk terus memperkuat hubungan Indonesia - Norwegia, termasuk melalui dialog, berbagai bentuk kerja sama, dan hubungan antar masyarakat kedua negara.
"Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, kami menatap masa depan dengan penuh keyakinan dan optimisme," kata Faizasyah.
Indonesia, kata dia, tetap berkomitmen untuk bekerja erat dengan Norwegia dan seluruh mitra guna memperdalam dialog, memperkuat kerja sama di berbagai forum, termasuk hubungan antarmasyarakat, dan berkontribusi bagi dunia yang lebih damai, berkelanjutan, dan sejahtera.
Sementara itu, State Secretary di Kementerian Iklim dan Lingkungan Norwegia, Kristofer André Hansen, yang hadir sebagai tamu kehormatan, menyoroti hubungan Indonesia - Norwegia yang terus berkembang sejak hubungan diplomatik resmi dibuka pada 1950.
Kemitraan kedua negara kini mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari iklim dan kehutanan, kelautan, energi, perdagangan dan investasi, hingga hak asasi manusia, perdamaian, dan kerja sama multilateral. Hansen secara khusus mengapresiasi capaian Indonesia dalam mengurangi deforestasi dan melindungi hutan tropis.
Di tengah berbagai tantangan global, kemitraan Indonesia - Norwegia, menurutnya, tetap berlandaskan rasa saling percaya, saling menghormati, dan keyakinan bahwa kedua negara akan lebih kuat dengan bekerja bersama.
Mengambil inspirasi dari panggung jazz tempat acara berlangsung, Hansen menggambarkan semangat kerja sama tersebut melalui harmoni dalam musik.
"Harmoni tidak tercipta dari suara-suara yang sama, tetapi dari suara-suara berbeda yang saling mendengarkan, merespons dengan kepercayaan, dan menemukan irama bersama," demikian kata Hansen.
Melalui Indonesian Cultural Night: "Strings of Equator – A Musical Journey to Indonesia," KBRI Oslo membawa keragaman musik Indonesia ke panggung Victoria National Jazz Scene.
Dimeriahkan oleh Tantowi Yahya dan Thomshell Band, acara tersebut tidak hanya memperkenalkan kekayaan musik Nusantara, tetapi juga mengajak para tamu bernyanyi dan menari bersama.
Malam Budaya Indonesia merupakan resepsi diplomatik yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan KBRI Oslo. Sekitar 200 tamu dari kalangan korps diplomatik, Pemerintah Norwegia, dunia usaha, masyarakat Norwegia, dan diaspora Indonesia memenuhi panggung jazz ternama di Oslo tersebut.
Baca juga: Kemitraan RI – Norwegia tunjukkan diplomasi iklim berbasis kinerja
Pewarta: Katriana
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·