IHSG berpotensi sideways di tengah pasar cermati global dan domestik

2 jam yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin berpotensi bergerak sideways di tengah pelaku pasar mencermati sentimen dari tingkat global dan domestik.

IHSG dibuka menguat 18,31 poin atau 0,28 persen ke posisi 6.544,00. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,41 poin atau 0,22 persen ke posisi 646,00.

“Apabila IHSG mampu bertahan di atas area 6.462-6.408, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.602, dengan resistance lanjutan di sekitar 6.723. Sebaliknya, apabila terjadi koreksi dan IHSG gagal mempertahankan 6.462, indeks berpotensi menguji 6.408, kemudian 6.394 sebagai support berikutnya,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, risiko geopolitik tetap tinggi akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi global. Namun, sinyal bahwa Iran kemungkinan mencari jalan untuk mengakhiri konflik mulai meredakan sebagian kekhawatiran pasar.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran lebih memilih mengakhiri perang ketika masih berada dalam posisi yang kuat. Perkembangan konflik selanjutnya akan menjadi katalis utama bagi harga minyak, inflasi global, dan aset safe haven.

Baca juga: BEI pastikan penetapan Saham Berbasis Hijau mengacu standar global

Sementara itu, ketegangan perdagangan antara AS dengan Kanada kembali meningkat setelah negosiasi terakhir gagal mencapai kesepakatan. AS mulai memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap produk Kanada sekitar 20 miliar dolar AS.

Kanada akan menerapkan tarif balasan secara “dollar for dollar” mulai 8 September 2026, dengan fokus pada sektor baja, produk susu, peralatan rumah tangga, alat pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney menilai tuntutan terakhir AS terlalu besar dan tawarannya terlalu kecil. Eskalasi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rantai pasok dan perdagangan bilateral.

Dari AS, data ekonomi AS yang kuat memberikan dukungan terhadap aset berisiko, sementara kenaikan yield obligasi dan kekhawatiran inflasi serta defisit fiskal membatasi penguatan.

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya