REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gurun Taklimakan di wilayah Xinjiang, China, kembali menarik perhatian dunia. Setelah sebelumnya berhasil dimanfaatkan sebagai lahan pertanian gandum, penelitian terbaru menunjukkan kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu gurun paling tandus di Bumi itu kini mulai berfungsi sebagai penyerap karbon alami.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa upaya penghijauan besar-besaran yang dilakukan China selama puluhan tahun tidak hanya membantu mengubah sebagian wilayah gurun menjadi lahan produktif, tetapi juga meningkatkan kemampuan kawasan tersebut menyerap karbon dioksida dari atmosfer.
Gurun Taklimakan membentang sekitar 337 ribu kilometer persegi dan selama puluhan tahun dijuluki sebagai "lautan kematian" karena kondisi alamnya yang sangat ekstrem. Dikelilingi pegunungan tinggi yang menghalangi masuknya udara lembap, lebih dari 95 persen wilayahnya terdiri atas pasir bergerak yang sulit ditumbuhi vegetasi.
Namun kondisi tersebut mulai berubah setelah China menjalankan Program Sabuk Pelindung Tiga Utara atau Three-North Shelterbelt Program pada 1978. Program yang dikenal sebagai "Tembok Hijau Besar" itu bertujuan menghambat penggurunan melalui penanaman pohon dan vegetasi di wilayah utara China.
Hingga kini lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam dalam proyek tersebut. Pada 2024, China menyelesaikan pembangunan sabuk hijau yang mengelilingi Gurun Taklimakan, menjadikannya salah satu proyek restorasi ekologi terbesar di dunia.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan bahwa vegetasi yang tumbuh di sepanjang tepian gurun kini menyerap lebih banyak karbon dioksida daripada yang dilepaskan kawasan tersebut. Dengan kata lain, Taklimakan mulai berfungsi sebagai carbon sink atau penyerap karbon.
Tim peneliti menganalisis data satelit, curah hujan, tutupan vegetasi, aktivitas fotosintesis, serta pergerakan karbon dioksida selama 25 tahun terakhir. Mereka menemukan peningkatan vegetasi yang konsisten dengan program penghijauan yang dilakukan pemerintah China.
Penulis penelitian sekaligus profesor ilmu planet dari California Institute of Technology (Caltech), Yuk Yung, menyebut hasil tersebut sebagai bukti pertama bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di kawasan gurun yang sangat kering.
"Kami menemukan untuk pertama kalinya bahwa intervensi yang dipimpin manusia dapat secara efektif meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering yang paling ekstrem," kata Yung.
Menurut para peneliti, keberhasilan tersebut juga membantu menjelaskan mengapa sebagian wilayah di sekitar Taklimakan kini mulai mendukung aktivitas pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah lahan di pinggiran gurun berhasil ditanami gandum dan berbagai tanaman pangan lainnya melalui kombinasi teknologi irigasi, pengelolaan tanah, dan penghijauan.

1 minggu yang lalu
7







English (US) ·
Indonesian (ID) ·