Ironis, Kebengisan Raja Ini Malah Bikin Suhu Bumi Sempat Turun

52 menit yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah perdebatan soal perubahan iklim dan suhu panas di bumi, penelitian tahun 2011 yang dilakukan oleh Departemen Ekologi Global Lembaga Carnegie di Universitas Stanford, Amerika Serikat, kembali menarik perhatian.

Sebab penelitian tersebut membuktikan adanya kasus pertama pendinginan global buatan manusia yang berhasil.

Dan orang yang berhasil mendingin suhu bumi itu, justru sosok yang paling bengis yang pernah hadir di muka bumi, yaitu Genghis Khan yang hidup pada 1162 - Agustus 1227). Dialah pendiri dan pemimpin (khan) pertama Kekaisaran Mongol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menyatukan suku-suku Mongol dan kemudian memimpin serangkaian kampanye militer yang menaklukkan sebagian besar wilayah Tiongkok dan Asia Tengah.

Selama masa pemerintahannya, Genghis Khan secara langsung menundukkan sekitar 20 kerajaan besar. Di bawah komandonya, Kekaisaran Mongol menjadi imperium daratan terbesar dalam sejarah yang menguasai lebih dari 17,6 juta kilometer persegi wilayah.

Namun, konsekuensi dari penaklukan itu dia disebut menghabisi setidaknya 40 juta manusia. Nah, saat populasi manusia berkurang tajam, pertanian dan perkebunan terbengkalai.

Invasi Mongol ke Asia pada tahun 1200-an menyerap cukup banyak karbon dioksida dari atmosfer untuk mengimbangi kebutuhan energi dunia selama setahun saat ini, menurut sebuah studi tersebut.

Studi yang diterbitkan secara pertama di jurnal The Holocene ini meneliti penggunaan lahan dan karbon dioksida di atmosfer antara tahun 800 dan 1850.

Secara global pada waktu itu, manusia menebang hutan untuk pertanian, mendorong karbon ke atmosfer (vegetasi menyimpan karbon, sehingga pohon dan semak-semak disebut oleh para ilmuwan sebagai "penyerap karbon").

Tetapi di beberapa wilayah selama periode tertentu, perang dan wabah penyakit mengurangi populasi, mengganggu pertanian dan memungkinkan hutan untuk tumbuh kembali.

"Kami ingin memeriksa apakah manusia memiliki dampak pada karbon dioksida dengan meningkatkannya melalui deforestasi, tetapi juga dengan menurunkannya," kata Julia Pongratz, yang memimpin penelitian ini Pongratz kepada LiveScience.

Julia membandingkan empat wabah besar yang pernah melanda dunia pada periode 800 hingga 1850. Pertama penguasaan Mongol atas Asia (sekitar tahun 1200 hingga 1380), kedua Wabah Hitam di Eropa (1347 hingga 1400), ketiga penaklukan Amerika (1519 hingga 1700) dan keempat jatuhnya Dinasti Ming di Tiongkok (1600 hingga 1650).

Semua peristiwa ini menyebabkan kematian dalam skala besar (Wabah Hitam saja diperkirakan telah menewaskan 25 juta orang di Eropa).

Hasilnya, hanya invasi Mongol yang memiliki dampak nyata, mengurangi karbon dioksida global kurang dari 0,1 bagian per juta.

Jumlah kecil ini membuat hutan menyerap sekitar 700 juta ton karbon dioksida, yang merupakan jumlah emisi tahunan dari permintaan bensin di seluruh dunia saat ini.

Tetapi itu masih merupakan efek yang sangat kecil, kata Pongratz. Kematian 40 juta orang berarti bahwa area lahan pertanian yang luas kembali ditumbuhi pepohonan lebat, yang menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Bumi kembali penuh dengan hutan yang membuat suhu makin adem.

Dalam studi yang kemudian banyak dikutip jurnal ilmiah dan media itu disebutkan, meskipun metodenya mungkin sulit diterima oleh para pemerhati lingkungan, para ahli ekologi percaya bahwa ini mungkin kasus pertama pendinginan global buatan manusia yang berhasil.

Karena itulah, secara satiris, Genghis Khan mendapat julukan sebagai penyerbu paling ramah lingkungan dalam sejarah, setelah penaklukannya yang brutal menewaskan begitu banyak orang sehingga sebagian besar lahan pertanian kembali menjadi hutan.

(imf/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya