Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sejumlah negara Arab dan Muslim yang belum menormalisasi hubungan dengan Israel untuk segera melakukannya.
Hal itu diminta Trump sebagai syarat jika Iran-AS berhasil mencapai kesepakatan mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan Axios memaparkan hal itu disampaikan Trump ketika melakukan panggilan telepon dengan beberapa negara Arab dan Muslim pada Sabtu (23/5).
Dua pejabat AS menuturkan dalam percakapan itu Trump menyatakan harapannya negara Arab dan Muslim yang belum bergabung dalam Abraham Accords untuk segera bergabung.
Abraham Accords adalah serangkaian kesepakatan diplomatik yang dimediasi oleh Amerika bagi negara-negara Arab yang mau menormalisasi hubungan dengan Israel.
Pada 2020, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menjadi bagian dari negara-negara yang menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.
Tiga negara yang 'Dipaksa' halus Trump jalin relasi dengan Israel
Pada Sabtu, Trump melakukan panggilan telepon dengan pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, dan Bahrain.
Menurut Axios, Trump mengatakan kepada para pemimpin tersebut bahwa ia ingin negara-negara yang belum memiliki hubungan dengan Israel segera menjalin hubungan diplomatik.
Trump juga menyinggung permintaan tersebut dalam unggahannya di Truth Social. Ia bahkan menyatakan Iran "mungkin saja" turut menjalin hubungan dengan Israel.
"Dalam pembicaraan saya pada Sabtu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Menteri Qatar Ali al-Thawadi, Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Raja Yordania Abdullah II of Jordan, dan Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa, saya menyatakan bahwa setelah seluruh upaya yang dilakukan Amerika Serikat untuk menyatukan teka-teki yang sangat rumit ini, maka seharusnya menjadi kewajiban bagi seluruh negara tersebut untuk, setidaknya secara bersamaan, menandatangani Abraham Accords," bunyi unggahan panjang Trump tersebut.
Dari pemimpin negara-negara yang melakukan panggilan telepon dengan Trump tersebut, Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan lah yang belum memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Permintaan tersebut menunjukkan Trump berupaya menawarkan keuntungan bagi Israel dalam kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dengan Iran ini. Sebab, perundingan AS-Iran yang kabarnya sebentar lagi akan disepakati untuk berlangsung ini membuat Israel waswas hingga kepanasan.
Sebab, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut kekeh ingin terus mengupayakan AS untuk melancarkan perang ke Iran. Ia bahkan berulang kali menegaskan operasi militer terhadap Iran belum berhenti meski AS-Iran sudah melangsungkan gencatan senjata yang rapuh sejak 8 April lalu.
Channel 12 melaporkan pada Minggu bahwa sejumlah pejabat senior Israel telah memperingatkan, "Sejauh ini terlihat, [kesepakatan tersebut] tidak melayani kepentingan Israel."
Pejabat Tel Aviv lainnya juga disebut menganggap perundingan AS-Iran ini sebagai "mimpi buruk" dan sangat bermasalah bagi Israel.
Para pejabat Israel khawatir kesepakatan itu, yang akan dimulai dengan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, tidak menyentuh program nuklir dan rudal balistik Teheran maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan. Isu-isu tersebut justru ditunda untuk negosiasi berikutnya, bersama sejumlah tujuan perang penting lainnya.
Menurut laporan tersebut, para pejabat Israel cemas kesepakatan itu akan memberi Iran waktu untuk memulihkan ekonomi dan militernya. Setelah itu, "akan sulit bagi Amerika maupun kami untuk kembali berperang.
(rds)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·