Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menegaskan penolakannya terhadap normalisasi hubungan negaranya dengan rezim Israel.
Penegasan itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan negara-negara regional untuk melakukan kesepakatan rekonsiliasi dengan Tel Aviv sebagai bagian dari kesepakatan Iran,
Berbicara kepada stasiun televisi Pakistan Samaa TV pada Senin, Asif mengatakan Pakistan seharusnya tidak mendukung perjanjian yang bertentangan dengan ideologi fundamental negara tersebut.
Asif menyampaikan pernyataan tersebut setelah ditanya tentang kemungkinan Pakistan bergabung dengan apa yang disebut Kesepakatan Abraham.
"Bagaimana Anda akan duduk bersama orang-orang yang kata-katanya tidak dapat dipercaya bahkan untuk satu hari pun?" tanyanya di lansir Press TV
Ia juga menegaskan kembali posisi Islamabad yang telah lama dipegang mengenai rezim tersebut. "Kami memiliki pendirian yang sangat jelas bahwa ini tidak dapat diterima oleh kami," kata Asif.
Merujuk pada kebijakan paspor Pakistan, ia menambahkan, bahwa mereka tidak pernah mencantumkan nama Israel. "Kami adalah satu-satunya negara yang paspornya bahkan tidak mencantumkan nama Israel."
Sebelumnya Trump menyerukan lebih banyak negara untuk mengikuti contoh negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain yang telah menandatangani kesepakatan rekonsiliasi dengan Tel Aviv.
Ia menyarankan agar negara-negara tersebut bergabung dengan "Kesepakatan Abraham" sebelum tercapainya kesepakatan apa pun antara Iran dan Amerika Serikat.
Trump mengatakan perluasan kesepakatan tersebut harus dimulai dengan penandatanganan segera oleh Arab Saudi dan Qatar, dan semua negara lain harus mengikuti jejak mereka. "Semua negara ini, setidaknya secara bersamaan, [harus] menandatangani Kesepakatan Abraham."

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·