Zelensky Tawarkan Penghentian Serangan Kilang Minyak Rusia, Ada Syaratnya

54 menit yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kesediaannya menghentikan serangan pesawat nirawak terhadap kilang minyak dan infrastruktur energi Rusia. Namun, tawaran tersebut disertai persyaratan tegas: Presiden Vladimir Putin harus terlebih dahulu bersedia menghentikan serangan terhadap pembangkit listrik, jaringan distribusi energi, serta fasilitas minyak dan gas Ukraina.

Sikap Zelensky tersebut disampaikan pada Ahad (11/10/2026), ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Kyiv agar menghentikan operasi militer yang telah merusak sebagian besar kemampuan pengolahan minyak Rusia. Ukraina menegaskan tidak akan menerima penghentian serangan secara sepihak karena langkah tersebut berpotensi memberikan keuntungan strategis kepada Moskow tanpa menjamin keselamatan warga Ukraina.

Mengutip Reuters, The Guardian, dan pernyataan resmi Kantor Presiden Ukraina, Senin (12/10/2026), Zelensky menegaskan bahwa setiap langkah menuju pengurangan intensitas perang harus dilaksanakan secara timbal balik dan disertai jaminan nyata. Kyiv menginginkan komitmen yang dapat diverifikasi bahwa Rusia benar-benar menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina.

"Ukraina siap untuk tidak menyerang infrastruktur energi Rusia, dan kami mengharapkan kesiapan yang sama dari Rusia," kata Zelensky dalam pidato malam yang diterbitkan Kantor Presiden Ukraina, Ahad (11/10/2026).

Menurut Zelensky, penghentian serangan terhadap fasilitas energi sebenarnya dapat dilakukan apabila Putin mempunyai kemauan politik untuk melaksanakannya. Ia menilai hambatan utama bukan terletak pada kemampuan teknis kedua negara menghentikan operasi militer tertentu, melainkan pada kesediaan Rusia memenuhi komitmen yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump secara terbuka mengecam operasi drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Presiden Amerika Serikat itu menilai serangan Kyiv telah memperburuk gangguan pasokan bahan bakar internasional, terutama ketika harga solar di Amerika Serikat melonjak akibat perang dengan Iran.

Trump Umumkan Gencatan Senjata, Zelensky Terkejut

Beberapa jam setelah Zelensky menyampaikan kesediaannya menerima penghentian serangan secara timbal balik, Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah mencapai kesepakatan gencatan senjata energi. Melalui platform Truth Social pada Ahad, Trump menyatakan kesepakatan tersebut berlaku segera dan meminta kedua pihak tidak melanggarnya.

"Berlaku segera, terdapat gencatan senjata energi dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah menyetujuinya. Jangan melanggarnya!" tulis Trump.

Namun, pengumuman itu justru mengejutkan Zelensky karena pemerintah Ukraina belum menerima penjelasan mengenai rincian kesepakatan yang diklaim Washington. Dalam wawancara dengan Axios, Zelensky mengaku baru mengetahui adanya kesepakatan tersebut setelah Trump menyampaikan pengumumannya secara terbuka.

Zelensky mengatakan Ukraina siap menerima gencatan senjata apabila Putin benar-benar menyetujuinya. Ia juga meminta Washington menjelaskan kapan kesepakatan tersebut mulai berlaku dan bagaimana pelaksanaannya akan diawasi.

Reuters melaporkan bahwa hingga pengumuman Trump disampaikan, Kremlin belum memberikan konfirmasi mengenai kesepakatan tersebut. Kondisi itu menimbulkan keraguan apakah kedua negara benar-benar telah menyetujui penghentian serangan atau Washington masih berusaha mendorong terbentuknya kesepakatan.

Keraguan semakin besar setelah Rusia dilaporkan tetap menyerang fasilitas energi Ukraina pada Ahad. Zelensky menyebut sebuah pembangkit listrik dan pemanas gabungan di Kharkiv terkena serangan setelah Trump mengumumkan gencatan senjata.

Dalam pidato resminya, Zelensky juga menyatakan Rusia telah melancarkan lebih dari 200 serangan terhadap fasilitas pembangkitan dan transmisi listrik Ukraina dalam sepekan terakhir. Sebanyak 17 serangan lainnya disebut menyasar fasilitas minyak dan gas, meskipun angka tersebut belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Mengapa Kilang Minyak Rusia Menjadi Sasaran?

Persoalan kilang minyak menjadi pusat perselisihan karena Ukraina telah menjadikannya salah satu sasaran utama operasi militer jarak jauh. Kyiv memandang industri pengolahan minyak Rusia sebagai sumber penting pasokan bahan bakar dan pendapatan yang dapat menopang operasi militer Moskow.

Investigasi The Washington Post yang diterbitkan pada 11 Oktober 2026 mengungkapkan bahwa Ukraina telah mengembangkan kemampuan menyerang fasilitas pengolahan minyak Rusia secara semakin presisi. Operasi tersebut melibatkan drone jarak jauh yang diarahkan ke komponen penting dalam proses produksi bahan bakar.

Berdasarkan analisis citra satelit dan data perusahaan energi S&P Global Energy, setidaknya dua pertiga dari 36 kilang minyak utama Rusia yang dipantau mengalami serangan sepanjang 1 April hingga 31 Agustus 2026. Sebagian fasilitas menjadi sasaran berulang kali, sementara tingkat keberhasilan operasi Ukraina meningkat seiring perkembangan teknologi dan taktik penggunaan drone.

Investigasi tersebut juga menemukan bahwa lebih dari separuh dari 54 serangan yang diperiksa tampaknya merusak unit penting dalam proses pemisahan dan penyulingan minyak mentah. Kerusakan komponen tersebut dapat menghentikan produksi karena perbaikannya memerlukan peralatan khusus yang semakin sulit diperoleh akibat sanksi internasional.

Menurut data S&P Global Energy yang dikutip The Washington Post, sekitar separuh kapasitas pengolahan minyak Rusia berada dalam kondisi tidak beroperasi pada akhir Agustus 2026. Volume ekspor produk minyak olahan Rusia pada awal Agustus juga dilaporkan turun hingga sekitar separuh dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Gangguan tersebut telah menekan pasokan bahan bakar domestik Rusia dan memperbesar biaya ekonomi perang. The Washington Post melaporkan harga bensin dan solar Rusia meningkat sekitar 20 persen sejak awal tahun, sementara sejumlah perusahaan membatasi pembelian bahan bakar.

Presiden Putin bahkan mengakui bahwa serangan Ukraina terhadap kilang minyak telah memberikan dampak terhadap perekonomian Rusia. Dalam pernyataan yang dikutip surat kabar Amerika Serikat tersebut, Putin memperkirakan gangguan yang ditimbulkan operasi Ukraina setara dengan sekitar satu persen produk domestik bruto Rusia.

Bagi Kyiv, hasil tersebut memperlihatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi merupakan instrumen penting untuk menekan kemampuan Moskow mempertahankan perang. Karena itulah Zelensky tidak bersedia melepaskan tekanan tersebut tanpa memperoleh jaminan bahwa Rusia juga menghentikan serangan terhadap infrastruktur vital Ukraina.

Baca Artikel Selengkapnya