Jakarta, NU Online
Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 masih menyisakan ketakutan bagi warga di Kabupaten Ende. Meski gempa susulan yang terjadi belakangan memiliki skala lebih kecil, sebagian warga belum berani kembali menempati rumah karena bangunan mengalami keretakan.
Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ende Muhammad Anwar mengatakan bahwa gempa susulan masih kerap terjadi hingga saat ini.
“Gempa-gempa susulan itu masih masih sering terjadi, hampir dua hari sekali kadang setiap hari tapi skalanya udah tidak sebesar yang dahulu,” ujarnya kepada NU Online, Senin (5/10/2026).
Anwar menuturkan ketika NU Peduli NTT datang membawa bantuan pertama pada 19 September 2026, warga masih tinggal di tenda. Namun, ketika pihaknya kembali pada 4 Oktober 2026, sebagian warga telah meninggalkan tenda pengungsian.
“Tapi setelah dua mingguan kami kembali lagi, mereka sudah pada kembali, tapi bukan bertempat tinggal di rumahnya,” katanya.
Ia menyampaikan bahwa warga memilih kembali ke sekitar rumah karena keterbatasan kebutuhan dasar. Namun, mereka belum berani masuk dan tinggal di dalam rumah yang mengalami keretakan.
“Mereka membuat semacam gubuk atau tenda-tenda yang darurat dari kayu, mereka tidur di sampingnya atau di depannya. Mereka belum bisa masuk ke dalam rumah karena rumah itu rata-rata semuanya pada retak,” katanya.
“Tenda mandiri dibuat dari kayu sama balok-balok sisa. tenda dibangun dari terpal atau baliho-baliho bekas atau kain-kain bekas gitu,” sambungnya.
Dampak gempa juga dirasakan anak-anak sekolah. NU Peduli NTT memberikan terpal untuk anak-anak yang bersekolah di SD Inpres Nioniba I. Sebagian ruang kelas di sekolah tersebut mengalami kerusakan.
“Sekolahnya ada sebagian kelas itu yang sudah retak-retak besar, ada yang sudah sampai jatuh plafonnya sama tembok-temboknya yang dicor-cor itu,” kata Anwar.
Karena khawatir gempa kembali terjadi saat pembelajaran berlangsung, guru memilih memindahkan kegiatan belajar mengajar ke tanah lapang di halaman sekolah.
“Guru mengambil keputusan agar menjaga keselamatan anak-anak yang takut tiba-tiba gempa, mereka mengambil keputusan untuk melangsungkan belajar mengajar di tanah lapang, di halaman sekolah,” ucap Anwar.
Dampak berikutnya menyentuh sumber penghidupan warga. Anwar mengatakan bahwa mayoritas warga di wilayah tersebut bekerja sebagai nelayan.
“Rata-rata mata pencaharian mereka itu nelayan. Mereka melaut masih takut, takut gempa tiba-tiba atau tsunami tiba-tiba. Untuk kerjaan lain tidak ada karena itu daerah kering,” katanya.
Ia mengatakan, hanya sebagian kecil warga yang mulai melaut. Itu pun dalam jarak yang sangat dekat dari pantai dan hasilnya sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan.
“Ada sih yang satu dua orang yang pergi melaut, tapi kisaran enggak sampai satu mil. Paling-paling 500 meter atau satu kilometer begitu cari ikannya. Cari ikannya sekedar hanya untuk makan itu,” pungkasnya.

6 jam yang lalu
13



English (US) ·
Indonesian (ID) ·