Wamenkeu: Akselerasi belanja pemerintah untuk dorong pertumbuhan

1 jam yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan belanja pemerintah yang tinggi di triwulan I-2026 memang didesain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sejak awal tahun.

Tercatat, belanja pemerintah pada triwulan I-2026 bertumbuh sebesar 21,8 persen year on year (yoy) dengan defisit anggaran mencapai 0,93 persen Produk Domestik Bruto (PDB) atau Rp240,1 triliun.

“Ini yang banyak sekali disorotin defisit satu kuartal sudah 0,93 persen. Karena ini memang by design, pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi itu bukan di akhir tahun, belanja itu bukan di kuartal IV, belanja itu mulai di kuartal I, sehingga dampaknya akan merata di keseluruhan tahun, di I, di II, di III, dan di IV,” katanya dalam agenda Rakorbangpus (Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat) 2026 Dalam Rangka Penyusunan RKP (Rencana Kerja Pemerintah) Tahun 2027 di Jakarta, Kamis.

Di tengah ketidakpastian geopolitik akibat adanya perang militer di kawasan Asia Barat dengan keterlibatan AS, Juda memuji capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen akibat didorong berbagai kebijakan pemerintah.

Apabila dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia, China, Singapura, Korea Selatan, dan AS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 lebih tinggi, hanya kalah dengan Vietnam. Namun, dia menegaskan bahwa fundamental Indonesia lebih baik dibandingkan Vietnam, tercermin dari cadangan devisa Vietnam yang di bawah 3 persen bulan impor, sedangkan Indonesia mendekati 6 persen.

Catatan baik lainnya ialah 2,42 persen yang diduga menjadi yang terendah dan stabil dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tinggi, dengan stabilitas yang terjaga. Begitu pula dengan defisit anggaran Indonesia juga bisa dijaga di bawah 3 persen dan utang terhadap PDB masih 40 persen.

“Inilah yang perlu kita jaga bersama, bagaimana kita bisa tumbuh tinggi, tetapi di sisi lain stabilitas ekonomi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang masih bisa kita jaga dengan baik,” ujar Wamenkeu.

Baca juga: Wamenkeu: Penghapusan MBG Sabtu hemat Rp1 triliun dalam satu hari

Baca juga: Wamenkeu sebut investment grade RI tetap aman di tengah tekanan global

Baca juga: Wamenkeu pastikan fiskal tetap terjaga meski BBM subsidi tak naik

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia yang tinggi hingga menyentuh 100 dolar AS per barel dinilai tak membuat Indonesia tergoncang signifikan, bahkan menjadi salah satu negara yang paling resilien terhadap energy shock. Resiliensi ini disebabkan Indonesia memiliki minyak dan gas, batu bara, hingga energi terbarukan.

Berikutnya, pembiayaan utang disebut masih terjaga dengan baik yang saat ini sudah mencapai 35,1 persen terhadap APBN atau Rp256,7 triliun dari awal tahun ini hingga 31 Maret 2026. Pemenuhan pembiayaan utang berjalan on-track melalui langkah antisipatif dan active cash & debt management untuk menjaga ketersediaan kas pemerintah yang memadai dan saldo anggaran lebih (SAL) yang tetap kuat.

Lebih lanjut, kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga masih baik kendati imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat naik, tetapi kemudian stabil lagi.

“Kalau yield masih bisa terjaga seperti ini, artinya apa? Artinya investor domestik maupun global masih percaya dengan kondisi fiskal kita. Kalau kondisi fiskalnya sudah jeblok tentu saja dia akan meningkat drastis seperti pada saat krisis-krisis di 2008, 2018 dan sebagainya. Tapi sekarang ini bisa terjaga dengan baik,” ujar dia.

Jika dibandingkan dengan negara-negara seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Meksiko, dan Brazil, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun relatif rendah, yakni 237 basis points (bps) per 4 Mei 2026 secara year to date (YTD)

“Kita masih bisa menjaga spread dan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fiskal kita masih cukup kuat,” ungkap Juda Agung.

Baca juga: Wamenkeu sebut perluasan basis pajak jadi strategi hadapi gejolak 2026

Baca juga: Percepat bansos, Kemenkeu dorong ekonomi tumbuh 5,6 persen kuartal I

Baca juga: Disorot Moody’s, Wamenkeu pastikan jaga rasio utang 40 persen PDB

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya