Wali Kota Saint-Denis Pasang Badan Lindungi Siswa Demonstran dari Kepolisian Prancis

1 jam yang lalu 1

​Jakarta, NU Online

Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, secara terbuka pasang badan membentengi para siswa yang menggelar aksi demonstrasi dari kejaran aparat kepolisian pada Selasa (6/10/2026).


​Melansir Roya News, aksi pejabat daerah yang berasal dari partai La France Insoumise (LFI) tersebut dilakukan dengan berdiri tepat di baris terdepan di antara barisan polisi anti-huru-hara dan para demonstran muda guna mencegah tindakan defensif maupun represif aparat.


​Langkah Bagayoko memicu gelombang kritik dari para penentangnya. Ia disorot tajam lantaran pekan lalu sempat mengeluarkan pernyataan kontroversial bahwa penggunaan kekerasan dapat dianggap sah pada titik tertentu.


​Dalam sebuah rekaman video di lokasi kejadian, Bagayoko terlihat berani menghadapi polisi anti-huru-hara dengan mengenakan setelan jas dan dasi, berdiri berdampingan di tengah kerumunan massa yang sebagian mengenakan penutup wajah (balaclava).


​Sementara itu, aparat kepolisian yang bertugas terlihat menembakkan gas air mata dan semprotan merica ke arah kerumunan massa. Polisi juga menggunakan perisai dan pentungan untuk mendorong mundur para demonstran yang membalas dengan melemparkan batu dan kerikil.


​Tindakan Bagayoko tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan dalam gelombang protes pelajar yang menuntut perbaikan fasilitas sekolah serta penambahan staf pengajar di berbagai sekolah menengah atas (lycée). Ia menegaskan bahwa kehadirannya di lapangan merupakan bentuk kewajiban moral untuk melindungi warganya.


​Melansir AFP, sembari memimpin para siswa menyanyikan lagu kebangsaan Prancis, Bagayoko menegaskan bahwa protes yang dilakukan para pelajar tersebut sepenuhnya sah akibat minimnya keadilan anggaran.


​Sebelumnya, pada Selasa (29/9/2026), Bagayoko sempat diterpa tuduhan terlibat dalam aksi pembakaran tempat sampah di area sekolah. Ia membantah keras tuduhan tersebut dan menyampaikan pandangannya terkait dinamika bentrokan di lapangan.


​“Terkadang, kekerasan bisa dibenarkan. Tetapi jika bisa dihindari, itu lebih baik,” tegas Bally Bagayoko, sebagaimana dikutip NU Online dari AFP.


​Melansir Daily Mail, hampir 900 sekolah dilaporkan terhenti operasionalnya secara penuh maupun sebagian di tengah aksi protes yang meluas di tingkat nasional.


​Gelombang pemogokan massal dan demonstrasi gabungan antara serikat pekerja dan para pelajar berlangsung luas di Paris dan berbagai kota lain di Prancis. Menurut klaim serikat pekerja, lebih dari 300.000 orang turun ke jalan di seluruh negeri, sementara kepolisian memperkirakan khusus di Paris jumlah massa mencapai 30.000 orang.


​Dampak bentrokan di sektor pendidikan mencatatkan kerusakan dan kerugian fisik yang fatal. Menurut menteri pendidikan, sejak awal gerakan tersebut bergulir, sebanyak 24 sekolah telah dibakar atau dijarah, serta 85 staf pengajar dilaporkan mengalami luka-luka.


​Pemerintah Prancis mengonfirmasi sebanyak 215 siswa dan 715 petugas luka-luka sejak awal aksi tersebut. Seorang remaja berusia 15 tahun bahkan dilaporkan mengalami cedera parah hingga kehilangan tangannya. Rekaman dari lokasi kejadian memperlihatkan sejumlah orang berusaha merawat pemuda yang tergeletak di trotoar dengan kondisi tangan kiri terputus dan berdarah.


​Hingga saat ini, otoritas melaporkan lebih dari 5.000 orang telah ditangkap, dengan 87 persen di antaranya merupakan anak di bawah umur. Para pejabat setempat menambahkan bahwa lebih dari 1.800 orang sedang menjalani proses hukum, termasuk 1.483 anak di bawah umur tanpa perincian pelanggaran yang spesifik, sementara sekitar 790 kasus dilaporkan telah dibatalkan.


​Aksi unjuk rasa masif tersebut diperkirakan melibatkan sekitar satu dari 10 guru yang melakukan aksi mogok kerja secara nasional, serta ribuan anggota dinas pemadam kebakaran yang turut menggelar aksi protes keras di ibu kota, yang kemudian memicu penindakan tegas dari kepolisian.

Baca Artikel Selengkapnya