Jakarta, CNN Indonesia --
Ukraina mengungkap satu lagi warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi tentara bayaran Rusia dan telah tewas di medan perang.
Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina (Defense Intelligence of Ukraine) mengidentifikasi WNI itu bernama Taufiq Muhammad asal Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Taufiq tewas hampir seketika dalam pertempuran pertamanya. Peristiwa itu terjadi ketika pasukan Rusia berupaya bergerak maju dari permukiman Zelena Dolyna di wilayah Donetsk menuju Novoselivka dan Drobysheve," bunyi pernyataan direktorat tersebut melalui situsnya.
Direktorat itu juga menuturkan sebelum berangkat ke Rusia, Taufiq pernah bekerja sebagai pengemudi taksi di Jakarta dan manajer di sebuah perusahaan pertanian. Pria kelahiran 22 Mei 1978 di Kota Sorong itu juga memiliki pengalaman bekerja di Amerika Serikat dan mampu berbahasa Inggris.
CNNIndonesia.com telah meminta konfirmasi kepada Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, terkait laporan Ukraina ini namun belum menjawab hingga berita ini terbit.
Sementara itu, Direktorat Intelijen Pertahanan Ukraina memang rutin merilis bukti perekrutan tentara bayaran asing oleh Rusia yang mereka nilai dijadikan umpan meriam Moskow.
Sebelumnya, Ukraina juga mengeluarkan laporan intelijen yang salah satunya berisi delapan diduga WNI jadi tentara bayaran Rusia.
Laporan ini pertama kali diungkap Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina pada 27 Agustus melalui Telegram.
Menurut The New Voice of Ukraine, badan tersebut menyatakan telah memperoleh dokumen yang mengonfirmasi perekrutan tersebut.
kedelapan WNI berusia antara 29 hingga 47 tahun. Mereka direkrut sebagai tenaga kerja murah usai diiming-imingi gaji tinggi, tugas non-tempur, pemberian kewarganegaraan Rusia, serta tunjangan sosial menarik lainnya.
Menurut Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU), orang-orang yang direkrut kebanyakan tak tahu akan dikirim ke mana.
"Pola yang sama sebelumnya telah digunakan ke warga negara Nepal, Kuba, Kenya, dan India. Sebagian besar dari mereka berakhir di garda depan tanpa pelatihan apa pun, dan beberapa tewas dalam beberapa minggu pertama," demikian pernyataan FISU Agustus lalu.
(rds/rds)

58 menit yang lalu
2





English (US) ·
Indonesian (ID) ·