UAE, Indonesia perluas kemitraan strategis hingga ekonomi digital

1 jam yang lalu 5

Jakarta (ANTARA) - Uni Emirat Arab dan Indonesia memasuki babak baru kemitraan strategis dengan memperluas kerja sama baik dari bidang perdagangan dan investasi, hingga energi bersih, lingkungan, teknologi, dan ekonomi digital.

Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia dan Timor-Leste Abdulla Salem AlDhaheri mengatakan hubungan kedua negara terus berkembang menjadi semakin luas, beragam, dan saling menguntungkan.

“Uni Emirat Arab tidak hanya berinvestasi pada proyek, tetapi juga pada kemitraan; tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada manusia; dan tidak hanya pada masa kini, tetapi juga pada masa depan bersama kedua bangsa,” kata AlDhaheri dalam kuliah umum President University Ambassador Lecture di President University di Jakarta, Kamis (8/10) dikutip dari siaran pers.

Dia mengatakan penguatan kerja sama tersebut menjadi bagian dari perjalanan hubungan diplomatik UAE-Indonesia yang memasuki usia 50 tahun pada 2026.

Menurut AlDhaheri, selain kerja sama antarpemerintah, hubungan bilateral juga mencakup kemitraan dunia usaha, peningkatan perdagangan, dan kerja sama pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di bidang ekonomi, dia menyoroti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), berlaku sejak 1 September 2023, yang bertujuan mengurangi hambatan perdagangan dan memperluas akses pasar kedua negara.

Perdagangan barang nonmigas Indonesia-UAE meningkat dari 1,92 miliar dolar AS (sekitar Rp34,35 triliun) pada 2020 menjadi 5,84 miliar dolar AS (sekitar Rp104,48 triliun) pada 2025 atau tumbuh sekitar 204,2 persen.

Kerja sama juga berkembang di sektor energi melalui pembangkit listrik tenaga surya terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat berkapasitas 145 megawatt AC yang dikembangkan Masdar dan PLN Nusantara Power.

Kedua pihak juga menjajaki perluasan kapasitas Cirata hingga 500 megawatt dan pengembangan pembangkit tenaga surya terapung di Bendungan Jatigede, Jawa Barat.

Sementara di bidang lingkungan, UAE dan Indonesia meluncurkan Mangrove Alliance for Climate saat COP27 pada 2022. Aliansi tersebut kini telah berkembang menjadi 47 negara.

Kemitraan lingkungan lainnya mencakup pembangunan Mohamed bin Zayed–Joko Widodo International Mangrove Research Centre di Bali dengan dukungan pendanaan UAE sebesar 10 juta dolar AS serta inisiatif Clean Rivers senilai 20 juta dolar AS.

AlDhaheri juga menekankan pentingnya kerja sama di bidang air dan sanitasi. UAE bersama Senegal akan menjadi tuan rumah Konferensi Air PBB 2026 di Abu Dhabi pada 8–10 Desember.

Selain itu, Dubes menilai generasi muda Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan kedua negara melalui pendidikan, kewirausahaan, teknologi, investasi, dan konektivitas antarmasyarakat.

AlDhaheri menutup kuliahnya dengan menegaskan komitmen UAE untuk terus mendukung inisiatif yang memperluas kolaborasi dan membuka peluang baru bagi kedua negara.

Baca juga: UEA-Indonesia perkuat kemitraan budaya untuk perdamaian

Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya