REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama lebih dari satu abad, kaviar identik dengan Rusia. Telur ikan sturgeon yang diasinkan itu menjadi simbol kemewahan global dan kerap menghiasi meja makan kalangan bangsawan, kepala negara, hingga restoran berbintang Michelin. Namun kini, dominasi Rusia di pasar kaviar dunia mulai menghadapi penantang baru: Turki.
Pemerintah Turki tengah menjalankan strategi ambisius untuk menjadikan negara itu sebagai salah satu pemain utama industri kaviar global. Melalui rencana yang baru diumumkan, Kementerian Pertanian dan Kehutanan Turki menargetkan pendapatan ekspor lebih dari 100 juta dolar AS dari produk sturgeon dan kaviar pada 2028.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Ankara memperluas ekspor produk akuakultur bernilai tinggi sekaligus masuk ke pasar makanan premium yang selama ini didominasi oleh produsen tradisional seperti Rusia dan Iran.
Kaviar berasal dari telur ikan sturgeon, spesies purba yang telah hidup sejak zaman dinosaurus. Produk ini dikenal sebagai salah satu makanan paling mahal di dunia. Harga kaviar premium dari jenis Beluga, Ossetra, dan Sevruga dapat mencapai ribuan dolar per kilogram tergantung kualitas dan asalnya.
Secara historis, Laut Kaspia yang berbatasan dengan Rusia dan Iran menjadi pusat produksi kaviar dunia. Selama berabad-abad, Rusia membangun reputasi sebagai penghasil kaviar terbaik dan menjadikan produk tersebut sebagai salah satu simbol kuliner nasional yang terkenal hingga ke Eropa dan Amerika Utara.
Meski demikian, kaviar bukanlah komoditas utama Rusia dari sisi nilai ekspor. Peran tersebut tetap didominasi minyak, gas alam, gandum, pupuk, dan logam. Namun dari sisi citra dan prestise internasional, kaviar menempati posisi yang sangat istimewa. Produk ini sering disebut sebagai "emas hitam" dunia kuliner karena kelangkaan dan nilainya yang tinggi.
Dalam beberapa dekade terakhir, populasi sturgeon liar mengalami penurunan akibat penangkapan berlebihan, polusi, dan perubahan lingkungan. Kondisi tersebut mendorong banyak negara beralih ke sistem budidaya modern untuk mempertahankan produksi sekaligus menjaga kelestarian spesies tersebut.
Turki melihat peluang besar dari perubahan tersebut. Negara itu melarang penangkapan sturgeon sejak 1997 dan menempatkan spesies tersebut di bawah perlindungan. Setelah itu, pemerintah mulai membangun fondasi industri budidaya sturgeon melalui program konservasi dan pengembangan akuakultur berkelanjutan.
Di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Perikanan dan Akuakultur, fasilitas pembenihan di Amasya dan Bolu telah menghasilkan sekitar 100 ribu sturgeon muda sepanjang 2022 hingga 2025. Sebagian dilepas ke habitat alami yang bermuara ke Laut Hitam, sementara sisanya digunakan untuk pengembangan industri budidaya komersial.
Saat ini Turki memiliki 12 fasilitas budidaya sturgeon berlisensi dengan kapasitas produksi gabungan lebih dari 3.200 ton per tahun. Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas hingga 20 ribu ton per tahun, ekspor 2.500 ton produk sturgeon, serta produksi kaviar mencapai 100 ton per tahun pada 2028.
sumber : Xinhua

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·