Tunduk Sanksi AS, UEA Larang Maskapai Iran Beroperasi

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan menangguhkan seluruh penerbangan maskapai Iran pada Kamis (24/9).

Hal itu dilaporkan kantor berita Iran, ISNA, menyusul langkah Amerika Serikat yang menerapkan sanksi baru terkait larangan terbang dan beroperasi bagi maskapai Iran di seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seluruh penerbangan menggunakan maskapai Iran menuju Uni Emirat Arab telah dibatalkan sejak tengah malam," bunyi laporan ISNA seperti dikutip AFP.

Sebuah penerbangan Iran Airtour yang dijadwalkan terbang dari Teheran menuju Dubai bahkan dibatalkan hanya beberapa saat sebelum terbang pada Kamis pagi.

Hal itu diungkapkan salah seorang penumpang yang mengaku diberitahu soal pembatalan tersebut ketika hendak mencetak tiket di bandara.

jumlah negara mulai menghentikan atau membatasi penerbangan maskapai Iran setelah AS mengancam akan menutup seluruh maskapai Teheran melalui sanksi ekonomi.

Kebijakan tersebut berlaku pada Rabu (23/9), di tengah upaya Washington menekan Teheran.

Ancaman terhadap maskapai Iran merupakan bagian dari sanksi AS yang semakin diperketat terhadap sektor penerbangan negara tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah terbaru tersebut pada Senin (21/9). Kebijakan itu melanjutkan berbagai sanksi penerbangan yang telah diberlakukan Washington terhadap Iran sebelumnya.

Bessent mengatakan AS akan menekan maskapai Iran melalui pembatasan akses terhadap layanan penting dalam penerbangan internasional.

"Semua maskapai penerbangan Iran akan ditutup di seluruh dunia," kata Bessent, seperti dikutip AFP.

Ia juga memperingatkan pihak yang tetap memberikan layanan kepada maskapai Iran.

"Jika mereka mendarat, Anda tidak boleh menyediakan bahan bakar, Anda tidak boleh memberikan layanan pendaratan, Anda tidak boleh menjual tiket kepada mereka, atau Anda akan dikeluarkan dari sistem dolar," ujarnya.

AS sebelumnya juga mengancam langkah yang disebut Bessent sebagai "D-Day ekonomi" untuk menekan Iran agar tunduk, setelah upaya mengakhiri perang di Timur Tengah melalui jalur militer mengalami kebuntuan.

(rds)

Baca Artikel Selengkapnya