REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Ukraina semakin memanas setelah Presiden Donald Trump menuding Presiden Volodymyr Zelensky tidak menginginkan berakhirnya perang dengan Rusia. Trump bahkan meminta Kyiv mempertimbangkan sosok lain untuk memimpin perundingan damai. Perselisihan itu terjadi setelah Ukraina melancarkan salah satu serangan drone terbesar terhadap Rusia, yang mengakibatkan kebakaran di terminal minyak strategis St Petersburg.
Ketegangan antara Washington dan Kyiv semakin tajam karena pemerintahan Trump pada saat bersamaan menangguhkan penerapan sejumlah sanksi ekonomi tambahan terhadap Rusia. Keputusan tersebut dikritik Zelensky yang menilai pelonggaran tekanan terhadap Moskow justru dapat memperkuat kemampuan Rusia melanjutkan perang.
Pada Senin (19/10/2026), Trump secara terbuka mempertanyakan peran Zelensky dalam proses negosiasi. "Mungkin sudah waktunya Zelensky meminta orang lain untuk berunding," kata Trump kepada wartawan, sebagaimana dikutip Reuters.
Trump juga menyatakan Rusia tidak melakukan banyak hal yang menurutnya dapat menghambat proses perdamaian. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Ukraina justru melaporkan serangkaian serangan besar Rusia terhadap infrastruktur energi dan kawasan permukiman.
Sehari sebelumnya, melalui Truth Social, Trump menuding Zelensky tidak memiliki kemauan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022.
"Zelensky tidak ingin mengakhiri perang ini, dan mungkin memang tidak pernah menginginkannya," tulis Trump pada Ahad (18/10/2026).
Trump mengatakan dirinya sedang mengupayakan kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina. Karena itu, ia tidak ingin mengambil langkah yang berpotensi membuat Moskow meninggalkan meja perundingan.
"Saya sedang dalam proses merundingkan perdamaian dalam perang antara Rusia dan Ukraina, dan tidak ingin melakukan apa pun yang secara bodoh akan membuat Rusia meninggalkan meja perundingan," katanya.
Trump juga mengklaim perundingan telah menunjukkan kemajuan besar. Namun, di lapangan, perang masih berlangsung dengan intensitas tinggi, termasuk serangan terhadap fasilitas energi kedua negara.
Zelensky membantah tuduhan bahwa Ukraina tidak menginginkan perdamaian. Ia menegaskan Kyiv selalu terbuka terhadap penyelesaian diplomatik yang menghormati kedaulatan dan keamanan negaranya.
"Ukraina tidak pernah menginginkan perang ini, dan kami menyambut setiap upaya dari mitra-mitra kami untuk mengakhirinya secara bermartabat," kata Zelensky melalui platform X.
Dalam wawancara dengan program Meet the Press NBC News pada Ahad, Zelensky juga memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat berpihak kepada Rusia, langkah tersebut akan menjadi sebuah kesalahan bersejarah.
Serangan Drone Ukraina Bakar Terminal Minyak Rusia
Pertikaian antara Trump dan Zelensky memuncak setelah Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke berbagai wilayah Rusia pada Ahad (18/10/2026).
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh 1.015 drone Ukraina dalam semalam. Angka tersebut merupakan klaim militer Rusia yang belum diverifikasi secara independen.
Serangan menjangkau St Petersburg, salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar Rusia yang terletak jauh dari garis depan pertempuran.
Gubernur St Petersburg Alexander Beglov mengatakan kebakaran terjadi di terminal minyak St Petersburg, sebuah depot penyimpanan minyak, dan sejumlah gudang industri setelah serangan berlangsung.
Menurut laporan Reuters, sedikitnya satu orang tewas dan 15 lainnya terluka akibat serangan di St Petersburg dan wilayah Leningrad, berdasarkan keterangan otoritas setempat.
Sejumlah infrastruktur komersial dan teknologi juga mengalami kerusakan. Perusahaan perdagangan elektronik Rusia Ozon mengonfirmasi kebakaran terjadi di pusat logistik miliknya. Sementara perusahaan teknologi VK menyatakan pusat datanya di wilayah Leningrad diserang drone, meskipun layanan kepada pengguna tetap berjalan.
Perusahaan produsen drone Ukraina, Fire Point, menyatakan militer Ukraina telah menyerang pusat data VK di dekat St Petersburg.
Serangan terhadap terminal minyak tersebut memperlihatkan kemampuan Ukraina menjangkau infrastruktur strategis Rusia yang berada jauh dari wilayah pertempuran.
Bagi Kyiv, serangan terhadap fasilitas minyak merupakan bagian dari operasi militer untuk mengganggu pengolahan, penyimpanan, dan distribusi bahan bakar Rusia.
Namun, operasi tersebut menjadi salah satu sumber pertentangan utama dengan Trump.
Presiden Amerika itu sebelumnya mengecam serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia karena dinilai memperburuk gangguan pasar bahan bakar internasional, termasuk pasokan solar yang dibutuhkan sektor transportasi, pertanian, dan industri Amerika.
Washington tengah berusaha menekan harga energi yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah, terutama perang melawan Iran, menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026.

1 jam yang lalu
1





English (US) ·
Indonesian (ID) ·