Trump Tiba-Tiba Tunda Sanksi Rusia, Zelensky: Ini Untungkan Putin

1 minggu yang lalu 13

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan menangguhkan pemberlakuan paket sanksi baru terhadap Rusia, hanya dua hari sebelum kebijakan yang telah disahkan Kongres itu dijadwalkan berlaku. Keputusan tersebut memicu kemarahan Ukraina dan kritik dari sejumlah anggota Kongres AS karena dinilai berpotensi mengurangi tekanan ekonomi terhadap Moskow di tengah perang yang belum berakhir.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam langkah Washington sebagai keputusan keliru yang justru menguntungkan Presiden Rusia Vladimir Putin. Di tengah serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina, Zelensky memperingatkan bahwa pelonggaran tekanan ekonomi terhadap Moskow dapat memperpanjang peperangan dan memberikan tambahan sumber daya bagi Rusia untuk melanjutkan operasi militernya.

Keputusan kontroversial itu diumumkan melalui perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pemerintah AS menggunakan kewenangan pengecualian dalam undang-undang sanksi Rusia yang sebelumnya telah mendapat dukungan luas dari Partai Republik maupun Partai Demokrat.

Menurut Reuters dan Associated Press, Trump menyatakan penangguhan tersebut dilakukan demi kepentingan nasional Amerika Serikat. Namun, keputusan itu sekaligus menandai perubahan penting dalam pendekatan Washington terhadap Moskow, terutama ketika Ukraina masih berupaya mempertahankan dukungan militer, diplomatik, dan ekonomi dari negara-negara Barat.

Sanksi yang Belum Berlaku Mendadak Ditangguhkan

Paket sanksi yang ditangguhkan merupakan bagian dari Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act of 2026. Undang-undang tersebut dinamai untuk menghormati mendiang Senator Lindsey Graham, politikus Partai Republik yang dikenal sebagai pendukung peningkatan tekanan ekonomi terhadap Rusia.

Trump sendiri telah menandatangani undang-undang itu pada September 2026, setelah Kongres menyetujuinya melalui dukungan lintas partai. Ketentuan penting dalam undang-undang tersebut dijadwalkan mulai diterapkan paling lambat 18 Oktober, tetapi Trump justru menggunakan kewenangan pengecualian dua hari sebelum tenggat tersebut.

Paket kebijakan itu dirancang untuk membatasi sumber pendapatan yang digunakan Rusia dalam membiayai perang di Ukraina. Sasarannya mencakup pejabat pemerintah Rusia, lembaga keuangan, sektor energi dan pertahanan, serta jaringan kapal tanker yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan.

Armada tersebut menjadi perhatian negara-negara Barat karena digunakan untuk mempertahankan perdagangan minyak Rusia di tengah pembatasan internasional. Melalui jaringan kapal dan mekanisme perdagangan yang kompleks, ekspor energi Rusia tetap berlangsung meskipun sejumlah negara telah menerapkan sanksi.

Undang-undang itu juga menyediakan instrumen tarif terhadap negara-negara pengimpor utama minyak dan gas Rusia. Salah satu ketentuannya memungkinkan pengenaan tarif hingga 100 persen terhadap importir tertentu, dengan pengecualian berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang.

Dalam perintah eksekutifnya, Trump menyatakan bahwa penggunaan kewenangan pengecualian telah dilaporkan kepada Kongres. Pemerintahannya menilai penerapan sanksi dan tarif tersebut pada saat ini tidak sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.

Meski demikian, penangguhan itu tidak berarti seluruh sanksi Amerika Serikat terhadap Rusia dihapuskan. Media Rusia Kommersant secara khusus menjelaskan bahwa perintah Trump tidak membatalkan sanksi-sanksi sebelumnya, melainkan menunda penerapan sejumlah pembatasan baru yang tercantum dalam undang-undang tersebut.

Zelensky: Keputusan yang Menguntungkan Putin

Reaksi keras datang dari Kyiv. Zelensky menilai keputusan Trump memberikan keuntungan strategis kepada Moskow ketika Rusia masih melancarkan serangan terhadap wilayah dan infrastruktur Ukraina.

Dalam pemberitaan Reuters pada 17 Oktober, Zelensky menyebut penangguhan sanksi sebagai langkah yang salah. Menurutnya, berkurangnya tekanan ekonomi terhadap Rusia dapat memperkuat posisi Putin dan menghambat upaya internasional untuk mengakhiri perang.

Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan penangguhan paket sanksi terbaru. Pemerintah Ukraina juga mencermati kebijakan energi Washington yang mulai membuka kembali perdagangan bahan bakar Rusia.

Sebelumnya, Trump mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dari Rusia dengan alasan membantu menurunkan harga energi. Zelensky memperingatkan bahwa transaksi tersebut berpotensi mengembalikan aliran pendapatan ke Rusia, sementara Moskow masih membutuhkan pembiayaan besar untuk mempertahankan operasi militernya.

Media Ukraina The Kyiv Independent melaporkan bahwa penangguhan sanksi berlangsung di tengah memburuknya hubungan antara Washington dan Kyiv. Ketegangan meningkat setelah Trump secara terbuka mengkritik kepemimpinan Zelensky dan pendekatan Ukraina terhadap perang.

Bagi Kyiv, tekanan terhadap sektor energi Rusia merupakan salah satu instrumen penting untuk membatasi kemampuan ekonomi Moskow. Karena itu, setiap kebijakan yang membuka peluang peningkatan pendapatan energi Rusia dipandang berisiko melemahkan posisi Ukraina.

Baca Artikel Selengkapnya