Trump Terus Tuding El-Sayed Ikhwanul Muslimin Tanpa Bukti, Video Debatnya Ditonton 14 Juta Kali

45 menit yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyerang kandidat Muslim Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, dengan menudingnya memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin.

Serangan terbaru itu disampaikan Trump dalam kampanye di Kansas, Senin (19/10/2026), ketika lembaga pemeriksa fakta PolitiFact justru menyatakan tuduhan lawan politik El-Sayed mengenai sikapnya terhadap organisasi tersebut tidak benar. Kontroversi semakin meluas setelah video perdebatan El-Sayed dengan seorang pemilih ditonton lebih dari 14 juta kali.

Polemik tersebut menjadi salah satu isu paling menonjol dalam perebutan kursi Senat AS di Michigan menjelang pemilu sela pada 3 November 2026. El-Sayed, kandidat Demokrat keturunan Mesir, menghadapi mantan anggota Kongres Mike Rogers dari Partai Republik dalam persaingan yang turut menentukan keseimbangan kekuatan politik di Washington.

Dalam kampanye di Park City, Kansas, Trump kembali mengangkat identitas dan latar belakang keluarga El-Sayed di hadapan para pendukungnya. Ia menyinggung saudara perempuan dan ibu kandidat tersebut sebelum menuduh El-Sayed sendiri sebagai anggota Ikhwanul Muslimin.

"Saudara perempuanmu anggota Ikhwanul Muslimin, benar begitu?" kata Trump, sebagaimana tercatat dalam transkrip pidatonya yang diterbitkan Roll Call.

Trump kemudian melanjutkan tuduhannya.

"Ternyata memang demikian. Dia juga anggota, begitu pula ibunya," kata Trump.

Presiden AS itu tidak mengemukakan bukti yang menunjukkan bahwa El-Sayed merupakan anggota Ikhwanul Muslimin.

Trump juga mempersoalkan kemungkinan El-Sayed menduduki posisi strategis di Senat, termasuk menjadi anggota komite intelijen, dengan menyinggung kemungkinan kebocoran informasi.

Serangan tersebut merupakan kelanjutan dari pernyataan Trump dalam sejumlah kampanye sebelumnya. Pada Jumat (16/10/2026), Trump bahkan menyebut El-Sayed sebagai seorang "jihadis", tuduhan yang tidak disertai bukti keterlibatan kandidat tersebut dalam kegiatan terorisme.

El-Sayed berulang kali membantah tuduhan memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin. Ia menegaskan keyakinannya sebagai Muslim tidak dapat dijadikan dasar untuk mempertanyakan kesetiaannya kepada Konstitusi Amerika Serikat.

PolitiFact Nyatakan Tuduhan Rogers Salah

Perkembangan penting terjadi pada Senin (19/10/2026), ketika PolitiFact menerbitkan pemeriksaan fakta terhadap pernyataan Mike Rogers mengenai sikap El-Sayed terhadap Ikhwanul Muslimin.

Rogers sebelumnya menuding El-Sayed tidak bersedia menyatakan penolakan secara tegas terhadap gerakan Islam yang didirikan di Mesir pada 1928 tersebut.

Tuduhan itu disampaikan Rogers dalam wawancara dengan CNN pada Ahad (18/10/2026).

Namun, setelah memeriksa rekaman pertemuan El-Sayed dengan pemilih di Caro, Michigan, pada Sabtu (17/10/2026), PolitiFact menyimpulkan bahwa pernyataan Rogers tidak sesuai dengan fakta.

Lembaga tersebut memberikan penilaian False atau salah terhadap klaim bahwa El-Sayed tidak bersedia menolak Ikhwanul Muslimin.

Dalam rekaman yang diperiksa, seorang peserta bertanya secara langsung apakah El-Sayed bersedia menyatakan penolakan terhadap organisasi tersebut.

"Tentu, ya, sepenuhnya," jawab El-Sayed.

PolitiFact menilai jawaban tersebut merupakan pernyataan penolakan yang jelas.

Selain itu, El-Sayed juga telah menyatakan tidak memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin dalam wawancara sebelumnya.

Namun, Rogers tetap mempertahankan kritiknya. Ia berpendapat jawaban El-Sayed tidak cukup karena kandidat Demokrat tersebut tidak menjelaskan pandangannya secara terperinci mengenai ideologi dan praktik politik Ikhwanul Muslimin.

Juru bicara kampanye Rogers, Alyssa Brouillet, juga menyatakan bahwa mengesampingkan sebuah pertanyaan berbeda dengan benar-benar menyatakan penolakan.

Kubu Rogers tetap menunjuk tulisan lama El-Sayed, riwayat keluarganya, dan hubungan sejumlah pendukung kampanyenya sebagai alasan untuk mempertanyakan pandangan politik kandidat tersebut.

Meski demikian, PolitiFact menegaskan bahwa pemeriksaannya berfokus pada klaim spesifik Rogers bahwa El-Sayed tidak menolak Ikhwanul Muslimin.

Hasilnya, rekaman menunjukkan bahwa El-Sayed memang menyatakan penolakan.

Video Perdebatan Ditonton Lebih dari 13 Juta Kali

Kontroversi tersebut semakin meluas setelah rekaman perdebatan El-Sayed dengan seorang peserta kampanye menyebar melalui media sosial.

The Wall Street Journal pada Selasa (20/10/2026) melaporkan video perdebatan tersebut telah memperoleh lebih dari 13 juta tayangan.

Peristiwa itu berlangsung dalam pertemuan terbuka dengan pemilih di Caro, Michigan, pada Sabtu.

Seorang pria bernama Thomas Teepell, yang pernah bekerja sebagai staf Senator Partai Republik Josh Hawley, berulang kali mempertanyakan apakah El-Sayed bersedia menolak Ikhwanul Muslimin.

Setelah menyatakan penolakannya, El-Sayed justru mempertanyakan alasan dirinya harus menjawab pertanyaan tersebut.

Menurutnya, pertanyaan itu mengandung asumsi bahwa identitas Muslim membuat seseorang memiliki kesetiaan kepada organisasi lain di luar Amerika Serikat.

"Anda berasumsi bahwa karena saya seorang Muslim, entah bagaimana saya memiliki kesetiaan kepada sesuatu selain Konstitusi kita," kata El-Sayed.

Ia kemudian menegaskan bahwa kesetiaannya sebagai warga negara ditujukan kepada Konstitusi Amerika Serikat.

"Bagi saya, Konstitusi itulah pedoman utama," ujarnya.

El-Sayed juga mengatakan dirinya tidak sedang mencalonkan diri untuk menjadi seorang senator yang mewakili agama tertentu.

"Saya tidak mencalonkan diri untuk menjadi senator Muslim. Saya mencalonkan diri menjadi anggota Senat AS dan kebetulan saya seorang Muslim," katanya.

Perdebatan tersebut berlangsung sengit. Peserta yang mengajukan pertanyaan akhirnya meninggalkan lokasi, sementara sejumlah hadirin menyambut pernyataan El-Sayed dengan tepuk tangan.

Rekaman itu kemudian dimanfaatkan El-Sayed sebagai salah satu materi kampanyenya di media sosial.

The Wall Street Journal menyoroti bagaimana pertanyaan yang semula diarahkan untuk menekan kandidat Demokrat tersebut justru memberinya kesempatan menyampaikan pembelaan terhadap identitas keagamaan dan kesetiaan konstitusionalnya di hadapan publik yang lebih luas.

Namun, viralnya video tersebut juga memperbesar perhatian terhadap tuduhan-tuduhan politik yang sebelumnya telah diarahkan kepada El-Sayed.

Baca Artikel Selengkapnya