Trump Tarik 12 Pengebom dari Inggris, Ada Apa dengan Ancaman Drone Iran?

55 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat menarik sekitar 12 pesawat pengebom strategis B-1 dari pangkalan udara RAF Fairford di Inggris setelah menerima informasi intelijen mengenai kemungkinan serangan drone yang diduga berkaitan dengan Iran. Langkah mendadak tersebut memperlihatkan persoalan besar yang kini dihadapi militer Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di NATO. Persenjataan berharga miliaran dolar, yang selama ini menjadi simbol keunggulan militer Barat, ternyata tetap menghadapi ancaman serius dari drone berbiaya rendah dan teknologi yang tersedia secara komersial.

Pemindahan pesawat-pesawat pengebom itu kembali menjadi sorotan setelah The Wall Street Journal pada Kamis (8/10/2026) menerbitkan laporan mengenai kerentanan pangkalan militer Inggris terhadap ancaman drone. Laporan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi peperangan telah mengubah cara sebuah fasilitas militer strategis harus dilindungi. Pangkalan yang berada ribuan kilometer dari garis depan peperangan tidak lagi dapat dianggap aman hanya karena memiliki pagar pengamanan, personel bersenjata, dan sistem pertahanan konvensional.

RAF Fairford merupakan salah satu pangkalan utama yang digunakan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengoperasikan pesawat pengebom jarak jauh di Eropa. Fasilitas di Gloucestershire, Inggris barat, itu telah digunakan untuk mendukung operasi militer Amerika terhadap Iran sejak perang kedua negara meningkat pada Februari 2026. Namun, seluruh pesawat pengebom Amerika yang ditempatkan di sana akhirnya dipulangkan ke pangkalan asal di Amerika Serikat pada awal Oktober setelah muncul kekhawatiran mengenai ancaman keamanan.

Menurut laporan Associated Press dan The Washington Post, keputusan pemindahan diambil setelah pejabat Amerika memperoleh informasi mengenai kemungkinan serangan drone terhadap pesawat dan personel militer di Fairford. Para pejabat khawatir sebuah serangan dapat menyebabkan kerusakan besar terhadap pesawat pengebom B-1 yang ditempatkan di pangkalan tersebut. Namun, belum terdapat bukti terbuka bahwa Iran telah berhasil menempatkan drone atau melaksanakan operasi serangan terhadap fasilitas itu.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membenarkan bahwa ancaman keamanan menjadi pertimbangan utama dalam pemindahan pesawat-pesawat tersebut. Ia mengatakan pemerintahannya tidak ingin membiarkan aset militer bernilai tinggi berada dalam situasi yang dianggap membahayakan. Trump juga menyebut kemungkinan ancaman tersebut memiliki hubungan dengan Iran, meskipun tidak memaparkan bukti yang mendasari penilaiannya.

"Kami mendapat informasi bahwa mungkin ada ancaman. Jadi, mengapa saya harus membiarkan pesawat-pesawat itu tetap berada di sana?" kata Trump kepada wartawan di Washington, Senin (5/10/2026), sebagaimana dikutip Reuters.

Trump menegaskan pemindahan pesawat merupakan langkah pencegahan dan tidak berarti Amerika Serikat kehilangan kemampuan menyerang sasaran di Timur Tengah. Pentagon juga menyatakan seluruh pesawat pengebom yang sebelumnya ditempatkan di Fairford telah kembali ke pangkalan masing-masing. Menurut Departemen Pertahanan AS, kemampuan untuk melancarkan serangan presisi jarak jauh tetap tersedia apabila diperlukan.

Tujuh Orang Ditangkap, Hubungan dengan Iran Belum Terbukti

Kekhawatiran mengenai keamanan RAF Fairford bermula dari kejadian mencurigakan di sekitar pangkalan pada 27 September 2026. Polisi Inggris menangkap lima pria setelah menerima laporan mengenai aktivitas mencurigakan di dekat fasilitas tersebut. Para tersangka diketahui berada di sekitar tiga kendaraan van berwarna putih yang diparkir tidak jauh dari kawasan pangkalan.

Pemeriksaan polisi menemukan sejumlah bahan bakar bensin dalam kendaraan yang berkaitan dengan para tersangka. Namun, aparat tidak menemukan bahan peledak maupun drone dalam kendaraan tersebut. Kelima pria itu kemudian dibebaskan dengan jaminan sementara penyelidikan tetap berlangsung.

Pada 1 Oktober, polisi menangkap seorang pria berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran di London. Penangkapan tersebut memperluas penyelidikan mengenai kemungkinan adanya rencana serangan terhadap pangkalan militer Amerika. Akan tetapi, hubungan langsung antara para tersangka dan Pemerintah Iran belum dibuktikan melalui proses hukum.

Perkembangan terbaru muncul pada Selasa (6/10/2026), ketika Kepolisian Kontraterorisme Inggris menangkap seorang pria berusia 22 tahun di Westminster, London. Penangkapan itu menjadikan jumlah orang yang pernah ditahan dalam penyelidikan tersebut mencapai tujuh orang. Polisi menyatakan tersangka terbaru ditangkap atas dugaan mempersiapkan tindakan terorisme berdasarkan Undang-Undang Terorisme Inggris 2006.

Koordinator Senior Nasional Kepolisian Kontraterorisme Inggris, Vicki Evans, menegaskan penyelidikan masih terus berlangsung. Menurutnya, tim penyidik sedang menelusuri berbagai kemungkinan mengenai aktivitas mencurigakan di sekitar RAF Fairford. Polisi juga masih berusaha memastikan motif dan kemungkinan hubungan antara orang-orang yang telah ditangkap.

"Kami tetap berkomitmen menyelidiki semua kemungkinan," ujar Evans dalam pernyataan resmi Kepolisian Kontraterorisme Inggris, Selasa (6/10/2026).

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya menyatakan terdapat indikasi kuat mengenai kemungkinan keterlibatan Iran dalam ancaman tersebut. Namun, pemerintah Inggris belum mengungkap bukti yang dapat diperiksa secara independen mengenai peran langsung Teheran. Iran sendiri membantah tuduhan keterlibatannya dan menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar.

Menariknya, terdapat perbedaan penjelasan di dalam pemerintahan Amerika Serikat mengenai alasan pemindahan pesawat pengebom. Trump dan Wakil Presiden JD Vance mengaitkan keputusan itu dengan ancaman keamanan yang diduga berhubungan dengan Iran. Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan tidak ada hubungan langsung yang telah dipastikan antara pemindahan pesawat dan dugaan rencana serangan tersebut.

Perbedaan pernyataan itu memperlihatkan bahwa informasi mengenai ancaman Fairford belum sepenuhnya terbuka kepada publik. Hingga Kamis (8/10/2026), belum ada konfirmasi resmi mengenai drone yang berhasil disita atau rencana serangan yang telah siap dilaksanakan. Kendati demikian, penilaian risiko yang diterima militer Amerika dianggap cukup serius untuk memindahkan seluruh pesawat pengebom dari pangkalan tersebut.

Baca Artikel Selengkapnya