Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding demonstrasi besar-besaran siswa SMA di Prancis dipicu oleh Islam dan para migran.
Trump berupaya mendorong narasi politik sayap kanan globalnya menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang yang bakal menentukan posisi partainya di Kongres
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang sudah benar-benar tidak terkendali," kata Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya.
"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulu pernah besar ini!"
Trump tidak menjelaskan lebih lanjut klaimnya ataupun memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya. Di Prancis sendiri, hingga kini belum ada kaitan yang ditemukan antara gerakan protes mahasiswa tersebut dan tuntutan yang berkaitan dengan agama maupun identitas.
Namun, sejumlah tokoh terkemuka dalam gerakan Make America Great Again (MAGA) yang dipimpin Trump telah memanfaatkan protes di Prancis untuk kembali menekankan isu imigrasi menjelang pemilihan paruh waktu AS bulan depan.
Para komentator MAGA berulang kali mengunggah video mengenai kerusuhan di Prancis dalam beberapa hari sebelum Trump membuat unggahan tersebut.
"Kerusuhan di Prancis merupakan peringatan yang jelas bagi negara-negara Barat lainnya," kata sekutu Trump, Glenn Beck, di X pada Senin. "Apa yang terjadi di Prancis hari ini merupakan bagian dari jaringan internasional kaum sosialis yang berupaya membongkar Barat."
"Ini akan terjadi di Amerika jika Partai Demokrat kembali berkuasa," tulis komentator sayap kanan Dave Rubin kepada 1,6 juta pengikutnya, disertai rekaman yang diambil di sebuah stasiun kereta api di Prancis.
Puluhan ribu orang diperkirakan turun ke jalan di Paris, Prancis, pada Selasa (6/10) untuk mendukung aksi protes pelajar SMA yang menuntut perbaikan kondisi pendidikan.
Sejumlah serikat pekerja juga akan bergabung dalam demonstrasi yang telah berlangsung sejak akhir September ini.
Para pelajar memprotes berbagai persoalan di sekolah, mulai dari kekurangan guru, jadwal pelajaran yang terlalu padat, hingga kondisi ruang kelas yang rusak.
Mereka juga menyoroti kondisi sejumlah gedung sekolah yang dinilai tidak mampu menghadapi kenaikan suhu.
Sejak akhir September, para siswa telah memblokir pintu masuk ratusan sekolah menengah atas yang umumnya diikuti pelajar berusia 15 hingga 17 tahun.
Menurut Kementerian Dalam Negeri, lebih dari 5.000 orang telah ditangkap selama demonstrasi berlangsung. Sementara itu Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengatakan sekitar 735 lembaga pendidikan terdampak demonstrasi.
(rds)

46 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·