Trump Klaim Tambang Minyak dan Gas Besar Bakal Dibuka di Greenland

1 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bakal segera membuka tambang minyak, gas, dan mineral dalam skala besar di Greenland.

"Eksplorasi minyak, gas, dan mineral besar-besaran akan segera dimulai di Greenland kita yang baru dan indah!" tulis Trump di platform Truth Socialnya, Selasa (13/10).

Trump tidak merinci lebih lanjut pernyataannya. Tidak jelas perkembangan apa yang ia maksud karena ekstraksi sumber daya di pulau tersebut telah lama terhambat karena berbagai faktor.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Greenland merupakan wilayah otonom Denmark yang memiliki iklim keras. Kurangnya infrastruktur di pulau tersebut telah menggagalkan semua upaya untuk mengekstraksi mineral langka serta minyak dan gas sehingga semua perusahaan hanya bisa mencapai tahap eksplorasi.

Selain itu, perusahaan juga tidak bisa maju karena pemerintah Greenland memoratorium izin pertambangan minyak dan gas baru selama beberapa tahun terakhir buntut krisis iklim.

Pernyataan Trump ini tampaknya ditujukan sebagai salah satu rangkaian kampanyenya untuk Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang.

Kenaikan harga energi imbas perang AS vs Iran telah memicu krisis serius dan berkelanjutan bagi warga Amerika khususnya kelas pekerja. Pernyataan ini kemungkinan memang disampaikan guna meredam kekhawatiran para pemilih menjelang pemilu pada 3 November.

Bulan lalu, AS meneken kesepakatan dengan pemimpin Greenland dan Denmark untuk memperkuat keamanan di Arktik dan Atlantik Utara. Penandatanganan tersebut dilakukan setelah berbulan-bulan Trump bersitegang dengan NATO buntut ambisinya mengambil alih Greenland.

Perjanjian ini tidak memberi hak eksplorasi khusus bagi AS di pulau kaya mineral tersebut. Namun, perjanjian ini menetapkan sejumlah batasan pada investasi oleh negara-negara non-NATO di sektor-sektor strategis.

Greenland telah buka suara mengenai pernyataan Trump. Naaja H. Nathanielsen, yang mewakili Greenland di parlemen Denmark, mengatakan kepada Associated Press pada Rabu (14/10) bahwa ia tidak terlalu terkejut maupun khawatir mengenai pernyataan tersebut.

"Inilah cara sang presiden memutuskan untuk bertindak. Saya rasa kita semua sudah memperkirakan hal seperti itu," katanya.

Nathanielsen berujar proyek-proyek terkait ekstraksi sumber daya di Greenland masih membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum berpotensi berhasil. Ia kemudian mengatakan bahwa pernyataan Trump memang tampaknya ditujukan pada warga Amerika yang khawatir tentang harga energi.

"Saya memahami kekhawatiran di AS, tetapi saya rasa ini bukan solusi cepat. Tidak akan ada cadangan minyak Greenland dalam waktu dekat," ucapnya.

Greenland memiliki cadangan besar mineral tanah jarang yang dibutuhkan untuk membuat segala sesuatu mulai dari komputer dan ponsel hingga baterai dan teknologi tenaga surya serta angin.

Saat ini, China mendominasi pasokan mineral penting ini dan Trump berupaya merebut posisi itu.

Badan Survei Geologi AS telah mengidentifikasi potensi cadangan minyak dan gas alam lepas pantai yang besar di Greenland. Namun, memanfaatkan sumber daya ini bisa jadi sangat sulit karena mineral tanah jarang terbungkus dalam batuan, dan deposit minyak serta gas alam lepas pantai tertutup oleh es Arktik.

Pada 2021, parlemen Greenland menyatakan tak akan mengeluarkan izin untuk pertambangan minyak dan gas baru karena dampak lingkungan dari ekstraksi minyak, serta keinginan untuk menghindari memburuknya krisis iklim global lebih lanjut.

(blq/dna)

Baca Artikel Selengkapnya