Malang, NU Online
Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Roadshow Ke-23 digelar di Ma’had Al-Qalam MAN 2 Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan kerja sama RMI PBNU, SAKA Pesantren PBNU, dan RMI PCNU Kota Malang tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi santri. Rangkaian kegiatan meliputi halaqah pengasuh, pelatihan musyrif/musyrifah, dan pelatihan santri.
Ketua PCNU Kota Malang KH Isroqunnaja menyampaikan bahwa penguatan pesantren memiliki arti penting karena pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki kontribusi historis bagi bangsa Indonesia apalagi momentum pelaksanaan kegiatan pada bulan Agustus memiliki makna tersendiri.
"Semua orang tahu bahwa di balik Agustus diakui atau tidak adalah para kiai dan santri. Karena waktu itu, yang ada, yang menggerakkan massa adalah para kiai dan santri. Maka kita mem-backup pesantren itu sama dengan mem-backup Indonesia," ujarnya.
Kiai Isroq juga mengaitkan penguatan pesantren dengan persiapan menghadapi Muktamar NU ke-35 di Jombang. Ia berharap pesantren mampu terus menunjukkan perannya sebagai lembaga yang memiliki perhatian kuat terhadap pembentukan spiritualitas dan moralitas masyarakat.
"Sehingga kita kepengin mencitrakan sebaik-baiknya tentang pesantren sebagai lembaga yang secara substantif dan secara historis ini lembaga yang konsen di bidang spiritualitas dan moralitas,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan terhadap lembaga yang membangun spiritualitas dan moralitas semakin penting di tengah berbagai persoalan sosial. Ia berkaca pada pengalaman Reformasi 1998 ketika muncul ketidakpercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara, meskipun banyak di antara mereka memiliki latar belakang pendidikan akademis.
“Artinya kita masih punya problem serius terkait dengan spiritualitas dan moralitas,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Isroqunnaja mengungkapkan bahwa PCNU Kota Malang tengah memikirkan usulan kepada PBNU agar terdapat standar operasional prosedur (SOP) perlindungan anak di pesantren.
Ia berharap setiap pesantren memiliki SOP yang mengatur penguatan kepengasuhan berbasis kasih sayang serta keterbukaan dan sinergi dengan dinas atau lembaga terkait.
“Kami di PCNU ini sedang berpikir untuk mengusulkan kepada PBNU agar ada semacam SOP perlindungan anak. Di tiap pesantren, ada SOP tentang penguatan kepengasuhan berbasis kasih sayang,” tuturnya.
Menurutnya, keterbukaan penting untuk memastikan pesantren tetap menjadi lembaga yang inklusif dan dapat diakses oleh masyarakat.
“Dan ada SOP tentang keterbukaan yang sinergis dengan dinas atau lembaga terkait. Sehingga kita memastikan jadi pesantren bukan lembaga yang eksklusif tetapi inklusif karena semua bisa akses dan kita terbuka untuk siapapun,” jelasnya.
Ia menambahkan, berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan pesantren tidak seharusnya ditutup-tutupi. Penyelesaian secara terbuka diperlukan untuk menjaga sekaligus mengembalikan citra dan ruh pesantren.
“Dan saya setuju bahwa apapun kekurangan-kekurangan di pesantren itu tidak perlu ditutup-tutupi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala MAN 2 Kota Malang H Syamsuddin menyampaikan bahwa saat ini madrasah yang dipimpinnya memiliki 1.572 siswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 700 siswa tinggal di Ma’had Al-Qalam MAN 2 Kota Malang. Ia menyambut baik pelaksanaan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman karena menjadi kesempatan bagi para santri dan pengelola ma’had.
“Ini kesempatan untuk kita semua sharing, kesempatan untuk kami, anak santri Ma’had Al-Qalam, memperoleh tambahan informasi, pengalaman, motivasi nanti dari narasumber-narasumber yang luar biasa,” katanya.
Dari 218 guru dan tenaga kependidikan di MAN 2 Kota Malang, sebanyak 38 orang merupakan musyrif dan musyrifah Ma’had Al-Qalam.
“Guru tenaga kependidikan MAN 2 Kota Malang sebanyak 218, 38 di antaranya adalah musyrif-musyriqah Ma’had Al-Qalam,” jelasnya.
Melalui Gerakan Nasional Pesantrenku Aman Roadshow tersebut, penguatan kapasitas pengasuh, musyrif-musyrifah, dan santri diharapkan dapat terus dilakukan sehingga pesantren mampu menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman sekaligus tetap menjaga nilai-nilai kepesantrenan.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua RMI PBNU KH Hadi Arief, Ketua PBNU sekaligus Ketua Satuan Anti Kekerasan Pesantren Alissa Wahid, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang KH A Shampton Madya, Ketua RMI PCNU Kota Malang KH Halimi Zuhdi, serta KH Istiqomah selaku Kasubbag/Kepala Seksi/Penyelenggara Zawa pada Kantor Kemenag Kota Malang.
Turut hadir Kepala MAN 2 Kota Malang beserta para kepala madrasah negeri di lingkungan Kantor Kemenag Kota Malang, Mudir Ma’had Al-Qalam beserta jajaran pengasuh pesantren di wilayah kerja Kemenag Kota Malang, para masyayikh, ulama, musyrif dan musyrifah, serta tamu undangan lainnya.

3 jam yang lalu
1




English (US) ·
Indonesian (ID) ·