Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, mengeluhkan negaranya kehilangan sekitar US$20 miliar atau setara Rp358 triliun pendapatan Terusan Suez dalam beberapa tahun terakhir akibat ketidakstabilan di Timur Tengah.
Sisi menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan yang digelar di markas Komando Strategis Mesir di Ibu Kota Administratif Baru pada Selasa (29/9), seperti dilaporkan Middle East Monitor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan itu dihadiri Perdana Menteri, Mostafa Madbouly, serta para menteri, gubernur, pejabat senior, komandan militer dan kepolisian, hingga sejumlah ahli.
Ini merupakan pertemuan pertama yang digelar di markas tersebut sejak Sisi meresmikan kompleks Komando Strategis pada Juli.
Dalam pertemuan itu, Sisi mengatakan Mesir perlu memanfaatkan sumber daya negara secara lebih efektif. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintah dan menjaga stabilitas dalam negeri.
Menurut Sisi, Mesir masih menghadapi dampak dari gejolak politik yang terjadi pada 2011 hingga 2013. Kondisi tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi besar yang dampaknya dapat dirasakan selama bertahun-tahun.
Sisi juga menyoroti sejumlah guncangan ekonomi sejak 2020 yang memberikan tekanan terhadap perekonomian Mesir.
Beberapa di antaranya adalah pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, serta konflik Israel-Palestina di Gaza.
Ketidakstabilan regional turut berdampak terhadap lalu lintas pelayaran di Laut Merah dan Terusan Suez. Kondisi itu kemudian mengurangi pendapatan Mesir dari salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia.
Dalam pidatonya di Gaza, Sisi memperingatkan bahwa upaya untuk secara paksa memindahkan warga Palestina dari wilayah tersebut "belum berhenti".
Ia menegaskan kembali penolakan Mesir terhadap pemindahan warga Palestina dari Gaza ke luar wilayah Palestina.
Selama ini, Mesir menolak berbagai usulan relokasi warga Gaza ke wilayahnya. Sejumlah pejabat Israel pernah mendorong gagasan yang mereka sebut sebagai "migrasi sukarela" warga Palestina dari Gaza.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga pernah mengusulkan pada 2025 agar warga Palestina dipindahkan dari Gaza sementara wilayah tersebut dibangun kembali. Pemerintah Mesir menolak gagasan tersebut.
Sisi mengatakan perdamaian tetap menjadi pilihan strategis bagi Mesir. Ia juga menyebut isu Palestina sebagai salah satu persoalan utama yang berkaitan dengan stabilitas Timur Tengah.
Ia kembali menyatakan dukungan Kairo terhadap solusi dua negara sebagai dasar penyelesaian konflik Israel-Palestina.
Selain isu Palestina, Sisi menegaskan sejumlah prinsip kebijakan luar negeri Mesir. Di antaranya mendukung keamanan dan stabilitas negara-negara Teluk Arab serta menjamin kebebasan navigasi di jalur maritim internasional sesuai hukum internasional.
(bac)

16 menit yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·