REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Raksasa teknologi Microsoft mengumumkan investasi besar senilai 17,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp307 triliun untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Australia dalam tiga tahun ke depan.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh CEO Microsoft Satya Nadella bersama Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dalam pertemuan di Sydney, Kamis (23/4).
Investasi tersebut setara dengan 25 miliar dolar Australia dan menjadi komitmen terbesar Microsoft di negara tersebut hingga saat ini.
Dalam pernyataannya, Microsoft menyebut dana tersebut akan digunakan untuk memperluas infrastruktur superkomputasi AI dan layanan cloud, sekaligus memperkuat sistem pertahanan siber Australia.
Selain pembangunan pusat data, investasi ini juga mencakup program pelatihan keterampilan AI bagi sekitar 3 juta pekerja di Australia. Langkah ini dinilai penting untuk mempersiapkan tenaga kerja menghadapi transformasi digital yang semakin cepat.
Microsoft juga berencana memperluas kolaborasi dengan pemerintah federal Australia, khususnya dalam bidang keamanan siber dan ketahanan nasional. “Australia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengonversi AI menjadi pertumbuhan ekonomi nyata dan manfaat sosial,” ujar Nadella.
Investasi ini mencerminkan komitmen Microsoft dalam mendukung transformasi digital Australia secara menyeluruh. Sementara itu, Perdana Menteri Anthony Albanese menyambut positif langkah tersebut. Ia menilai investasi Microsoft akan membantu Australia memanfaatkan peluang ekonomi dari teknologi AI, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap berbagai risiko digital.
Investasi ini menegaskan semakin kuatnya peran kecerdasan buatan sebagai pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi global, sekaligus menjadi arena baru persaingan teknologi antarnegara.
Ketika Infrastruktur Digital Jadi Senjata Baru
Investasi besar Microsoft di Australia tidak bisa lagi dibaca semata sebagai ekspansi bisnis. Di balik angka miliaran dolar, tersimpan arah baru kompetisi global: kecerdasan buatan sebagai instrumen kekuatan negara.
Dalam beberapa tahun terakhir, rivalitas antara Amerika Serikat dan China semakin bergeser ke ranah teknologi, khususnya AI. Jika pada era sebelumnya kekuatan diukur dari industri berat seperti baja dan manufaktur, kini parameter tersebut bergeser ke data, komputasi, dan algoritma. Negara yang menguasai infrastruktur digital, mulai dari pusat data hingga superkomputer, memiliki keunggulan strategis dalam menentukan arah ekonomi dan keamanan global.
sumber : Xinhua

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·