REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL — Perdana Menteri Kanada Mark Carney memperingatkan bahaya ketergantungan sebuah negara terhadap satu penyedia teknologi strategis setelah pembatasan layanan komunikasi satelit Starlink dan Starshield dilaporkan mengganggu operasi militer Ukraina. Insiden tersebut memperlihatkan bagaimana keputusan mengenai akses terhadap infrastruktur komunikasi dapat memengaruhi kemampuan pertahanan negara yang sedang berperang.
Peringatan Carney disampaikan kepada wartawan di Istanbul, Turki, Jumat (23/10/2026), di tengah upaya Ottawa memperluas kemitraan teknologi dan industri pertahanan dengan Ankara. Kanada kini menjajaki kerja sama dengan industri militer Turki untuk memperkuat kemampuan nasional, terutama dalam bidang pesawat nirawak, teknologi otonom, dan pengembangan sistem pertahanan.
Carney mengecam pembatasan layanan satelit yang digunakan Ukraina ketika negara tersebut masih menghadapi invasi Rusia. Ia menilai keputusan yang dapat mengganggu kemampuan sebuah negara mempertahankan diri menimbulkan persoalan serius, baik dari sisi keamanan maupun kemanusiaan.
"Saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk menggambarkan siapa pun yang mengambil keputusan ini, atau sekelompok orang yang mengambil keputusan tersebut, terhadap sebuah negara yang benar-benar sedang berjuang mempertahankan nyawa rakyatnya dari agresi terang-terangan," kata Carney, sebagaimana dilaporkan Bloomberg pada Jumat.
"Apakah kami khawatir? Ya, kami khawatir," ujarnya.
Carney juga mengingatkan bahwa Kanada tidak boleh membiarkan kemampuan strategisnya bergantung sepenuhnya pada satu perusahaan yang sewaktu-waktu dapat mengubah kebijakan layanan atau menghadapi tekanan politik.
"Kami sebagai warga Kanada tidak ingin terjebak dalam situasi ketika kami bergantung pada satu penyedia yang mungkin mengubah pandangannya, atau dipaksa mengubah pandangannya oleh suatu negara, sehingga membahayakan warga Kanada atau mengorbankan kedaulatan kami," katanya.
Pernyataan tersebut muncul setelah sejumlah media Amerika Serikat melaporkan pembatasan kecepatan layanan komunikasi satelit SpaceX yang berdampak pada pengoperasian sebagian sistem militer Ukraina.
Namun, perkembangan terbaru pada Sabtu (24/10/2026) menunjukkan adanya pemulihan layanan. Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan kecepatan koneksi Starlink dan Starshield telah kembali ke tingkat normal setelah pembatasan yang berlangsung lebih dari sepekan.
Reuters melaporkan bahwa sistem pemantauan Ukraina mencatat koneksi stabil pada perangkat yang bergerak dengan kecepatan lebih dari 400 kilometer per jam. Sebelumnya, pembatasan dilaporkan menyebabkan gangguan koneksi ketika perangkat bergerak pada kecepatan sekitar 160 kilometer per jam atau lebih.
Meski demikian, pemerintah Ukraina belum secara eksplisit memastikan bahwa seluruh layanan telah pulih sepenuhnya.
Perkembangan tersebut tidak menghilangkan persoalan mendasar yang disoroti Carney, yakni kerentanan sistem pertahanan ketika akses terhadap teknologi penting bergantung pada keputusan penyedia eksternal.
Starlink Pulih, tetapi Persoalan Belum Selesai
Kontroversi bermula setelah muncul laporan bahwa akses terhadap layanan komunikasi satelit yang digunakan militer Ukraina mengalami pembatasan.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa pembatasan kecepatan layanan Starshield berdampak pada pengoperasian sejumlah pesawat nirawak Ukraina. Sejumlah komandan militer dilaporkan mengalami gangguan komunikasi dan kehilangan drone ketika menjalankan operasi.
Starlink merupakan layanan internet satelit milik SpaceX, perusahaan yang didirikan Elon Musk. Sementara itu, Starshield dikembangkan untuk kebutuhan pemerintah dan keamanan nasional, termasuk aplikasi komunikasi militer.
Keduanya menggunakan teknologi yang berkaitan, tetapi mempunyai fungsi dan pengaturan layanan yang tidak sepenuhnya sama.
Dalam operasi militer modern, layanan komunikasi satelit dapat digunakan untuk menghubungkan personel, mengirimkan informasi pengintaian, dan mendukung pengoperasian sistem tanpa awak.
Gangguan terhadap layanan tertentu dapat memengaruhi kemampuan tersebut, terutama ketika perangkat bergerak dengan kecepatan tinggi atau beroperasi di wilayah yang tidak memiliki infrastruktur komunikasi darat memadai.
Menurut laporan Reuters pada Sabtu, pejabat pertahanan Ukraina Evhenii Khmara menyatakan kecepatan layanan telah kembali normal.
Sistem pemantauan mencatat koneksi stabil pada kecepatan pergerakan lebih dari 400 kilometer per jam.
Pernyataan tersebut menjadi perkembangan penting setelah pemerintah Ukraina sebelumnya melaporkan gangguan koneksi yang masih berlangsung.
Namun, pemulihan kecepatan layanan tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh masalah operasional telah terselesaikan.
Belum ada konfirmasi menyeluruh mengenai dampak pembatasan terhadap setiap satuan militer, jumlah pesawat nirawak yang kehilangan koneksi, ataupun seluruh wilayah operasi yang terdampak.
Karena itu, laporan mengenai pemulihan perlu dibedakan dari klaim bahwa seluruh layanan komunikasi satelit Ukraina telah kembali beroperasi tanpa gangguan.
Siapa Memerintahkan Pembatasan Starshield?
Pertanyaan mengenai pihak yang bertanggung jawab atas pembatasan layanan menjadi salah satu aspek paling sensitif dalam kontroversi tersebut. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Elon Musk memerintahkan pembatasan kecepatan layanan yang digunakan Ukraina.
Media itu juga melaporkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Musk untuk meminta agar pembatasan dicabut. Namun, laporan Reuters mengenai persoalan tersebut mengindikasikan adanya keterlibatan lingkungan Gedung Putih dalam keputusan pembatasan Starshield. Perbedaan laporan tersebut menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan belum sepenuhnya terang.
Hingga Sabtu (24/10/2026), belum terdapat pengakuan tanggung jawab yang memberikan kepastian mengenai keseluruhan proses pengambilan keputusan, termasuk siapa yang memberikan instruksi awal dan bagaimana pembatasan diterapkan secara teknis.
Karena itu, belum dapat disimpulkan bahwa Musk bertindak sepenuhnya atas inisiatif sendiri ataupun bahwa Trump secara pribadi memerintahkan pembatasan tersebut. Kontroversi semakin berkembang setelah Trump menyatakan layanan komunikasi Ukraina telah kembali beroperasi dengan kecepatan penuh.
Namun, pejabat pertahanan Ukraina pada Jumat masih melaporkan gangguan sinyal. Perbedaan keterangan tersebut memperlihatkan bahwa pengumuman pemulihan dari Washington tidak selalu mencerminkan kondisi yang sama dengan pengalaman pengguna di medan tempur.
Laporan pemulihan dari Kementerian Pertahanan Ukraina pada Sabtu memberikan perkembangan yang lebih baru, meskipun belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai penyebab pembatasan dan pihak yang bertanggung jawab.
Persoalan itu kini menjadi perhatian politik di Amerika Serikat karena menyangkut hubungan antara pemerintah, kontraktor pertahanan swasta, dan negara sekutu yang bergantung pada teknologi Amerika.

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·