Terancam Iran dan Houthi, Pasukan AS Mulai Cabut dari Timur Tengah

1 hari yang lalu 2

Koran Hamshahri yang terbit di Iran menampilkan ilustrasi tentara Amerika Serikat menjadi sandera, Senin (17/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran mulai berbalik merugikan kepentingan negeri Paman Sam itu di Timur Tengah. Belakangan, AS dilaporkan mulai mengurangi kehadiran personel militernya di sejumlah pangkalan di Timur Tengah, salah satu syarat gencatan senjata yang sebelumnya diajukan Iran.

Pada saat yang sama, pemerintah AS memerintahkan sejumlah diplomat nonesensial beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. NBC News melaporkan pengurangan personel militer AS di sejumlah pangkalan di Timur Tengah dengan mengutip dua pejabat AS. Departemen Luar Negeri AS juga mengambil langkah untuk mengurangi jumlah personel di sejumlah perwakilan diplomatik di kawasan tersebut.

Langkah itu berlangsung di tengah meningkatnya ancaman keamanan dan kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah. Namun, pengurangan personel militer tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa Washington telah memutuskan untuk melancarkan operasi militer baru.

Reuters melaporkan pada Rabu (21/10/2026), Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan pegawai pemerintah nonesensial dan anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan perintah tersebut secara resmi berlaku untuk personel di Arab Saudi.

Menurut Pigott, keputusan itu diambil menyusul meningkatnya ancaman serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sasaran sipil dan infrastruktur penting di Arab Saudi.

“Kelompok Houthi yang didukung Iran semakin meningkatkan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban sipil serta gangguan perjalanan yang serius,” demikian pernyataan Pigott sebagaimana dikutip Reuters.

Situasi keamanan di Arab Saudi memburuk setelah serangkaian serangan menyasar fasilitas penting negara tersebut. Otoritas setempat melaporkan serangan di Bandara Internasional King Fahd di Dammam yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan dua orang tewas setelah pertahanan udara mencegat sebuah drone yang berupaya menyerang fasilitas di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco.

Serangan-serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil, personel asing, serta kelangsungan operasional fasilitas strategis di kawasan Teluk.

Baca Artikel Selengkapnya