Tentara Israel berpatroli di pos pemeriksaan bagian utara di Hebron, di wilayah Tepi Barat yang diduduki, pada 24 Oktober 2026. Pasukan Israel merangsek masuk ke kota Hebron di Tepi Barat pada 24 Oktober dan membuat sekitar 250 keluarga terusir dari tempat tinggal mereka—beberapa di antaranya bahkan di tengah malam.
HEBRON — Penghancuran rumah-rumah di wilayah Tepi Barat yang dijajah terus berlangsung. Pada Kamis, pasukan Israel menghancurkan sebuah rumah milik warga Palestina di kota Tarqumiya, sebelah barat laut Hebron.
Koresponden WAFA melaporkan bahwa pasukan Israel menggerebek kawasan Shaab al-Bir, di sebelah barat Tarqumiya, dan menggunakan buldoser untuk merobohkan sebuah rumah milik Fadi Abu Hjeisheh. Rumah tersebut sebelumnya dihuni oleh tujuh orang, yang kini kehilangan tempat tinggal.
Kawasan ini kerap menjadi sasaran serangan oleh para pemukim dan pasukan Israel karena lokasinya yang berdekatan dengan permukiman Telem dan Adora, yang dibangun di atas tanah milik warga Palestina. Para pemukim berupaya memperluas kedua permukiman tersebut dengan mencaplok tanah milik warga Palestina.
Pemerintah Kota Hebron mencatat sebanyak 4.969 warga dari 780 keluarga telah mengungsi akibat operasi militer Israel tersebut. Jumlah itu dilaporkan terus bertambah seiring berlanjutnya penggerebekan dan pembatasan pergerakan di sejumlah wilayah kota serta daerah sekitarnya.
Laporan Palestine Chronicle, Rabu (28/10/2026), menyebut pasukan Israel kembali memasuki sejumlah kota dan kamp pengungsi Al-Fawwar pada tengah malam. Mereka menggeledah rumah-rumah warga dan memperketat penjagaan di pintu-pintu masuk Hebron.
Rekaman Anadolu Agency memperlihatkan tentara Israel menghentikan warga Palestina di dekat bundaran Al-Jalda, memeriksa mereka, dan memperlakukan sejumlah warga secara kasar.
Pasukan Israel juga mempertahankan penutupan akses di kawasan Al-Jalda dan Deir Baha. Sejumlah keluarga dilaporkan dipaksa mengosongkan bagian-bagian rumah mereka di tengah operasi militer yang terus berlangsung.
Dampak pengungsian tersebut tidak hanya dirasakan oleh keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Di antara warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka terdapat 336 bayi, 441 lansia, 216 perempuan hamil dan menyusui, 44 penyandang disabilitas, serta 312 orang dengan penyakit kronis.
Data Pemerintah Kota Hebron itu menunjukkan besarnya kebutuhan perlindungan dan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak, terutama mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan secara rutin.

53 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·