Tim pembawa Angkatan Darat AS memindahkan jenazah tentara AS yang tewas akibat balasan Iran di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, AS, 9 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Mantan Menteri Luar Negeri Iran dan anggota parlamen mewakili Teheran, Manouchehr Mottaki mewacanakan bahwa penyerbuan dan penguasaan satu pangkalan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah akan menentukan hasil dari perang saat ini. Pernyataan Mottaki itu dilontarkannya dalam sebuah pidato yang dilaporkan media Iran seperti SNN.
"Jika kita menguasai satu saja pangkalan Amerika, kita akan mengakhiri dan menentukan nasib dari perang melawan angkatan bersenjata penjajah terbesar di dunia," kata Mottaki," yang potongan video pidatonya juga beredar viral di media sosial.
Mottaki menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada 2005 hingga 2010 di bahwa kepemimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Saat ini dia menjadi salah satu wakil suara garis keras di parlemen Iran yang juga kerap menjadi komentator politik di media-media Iran.
Pada Juni 2026 berbicaa di kanal televisi Iran, Channel 1, Mottaki berargumen bahwa Iran mampu untuk melancarkan "perang darat serius", sambil menyebut pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah sebagai target yang sah untuk diserang. Dia juga menawarkan ide penculikan 100 tentara AS untuk dijadikan sandera.
Kemudian pada wawancara di IRINN TV, pada Juli, Mottaki meningkatkan eskalasi pernyataannya dengan mengatakan bahwa Iran bisa menduduki pangkalan di Irak, Kuwait, dan Bahrain dengan dukungan warga lokal , menangkap sekitar 200 prajurit AS, dan lalu "melucuti total" AS dan menghentikan agresinya.
Mottaki pun menegaskan bahwa Yordania dan enam negara Teluk sebagai negara tak bersahabat, membuat semua kawasan itu sebagai target sah. Wacana yang diajukan Mottaki meresonansi elemen Revolusi 1979 di mana saat itu strategi penyanderaan warga Amerika menjadi daya tawar Iran.

1 jam yang lalu
1







English (US) ·
Indonesian (ID) ·