Tegang, Jepang Berencana Kerahkan Drone Pantau Kapal China

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Jepang dikabarkan berencana mengerahkan drone pengintai jarak jauh di pulau-pulau terpencil untuk memantau aktivitas kapal China.

Surat kabar Yomiuri melaporkan drone-drone tersebut rencananya ditempatkan di Iwo Jima dan Pulau Chichijima di Ogasawara, selatan Tokyo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lapangan terbang di Minamitorishima juga akan digunakan untuk penempatan drone tersebut. Lokasinya berada sekitar 1.950 kilometer di tenggara Tokyo dan merupakan titik paling timur Jepang.

Menurut sejumlah sumber pemerintah, tujuan pengerahan drone ini untuk menyediakan informasi intelijen secara real-time di area yang saat ini merupakan "titik buta" pengawasan.

Banner Microsite Haji 2026

Rencana ini menandai langkah signifikan Jepang dalam mengawasi aktivitas angkatan laut China, yang kapal-kapalnya sering beroperasi di luar rantai kepulauan pertama.

Rantai pulau pertama merujuk pada doktrin keamanan utama Amerika Serikat (AS) yang mencakup wilayah dari semenanjung Kamchatka di timur laut hingga semenanjung Malaya di barat daya, termasuk wilayah Jepang.

Analis International Crisis Group yang berbasis di Taiwan, William Yang, menilai keputusan Jepang ini sejalan dengan kekhawatiran yang mereka rasakan terhadap China.

[Gambas:Video CNN]

"Keputusan ini sejalan dengan peningkatan penilaian ancaman Tokyo, terutama terkait dengan peningkatan tekanan yang disebabkan oleh aktivitas maritim China di luar pantai pulau pertama," kata Yang, seperti dikutip South China Morning Post (SCMP).

"Penilaian pertahanan tahunan Jepang telah menyinggung tren tersebut selama setahun terakhir, dengan menunjuk pada pengerahan simultan pertama kapal induk China ke Pasifik barat," tambahnya.

Dua kelompok kapal induk Beijing berlayar ke perairan selatan Tokyo pada Juni tahun lalu. Satu kelompok kapal induk, yang terdiri dari dua kapal perusak rudal berpemandu dan sebuah kapal suplai, melakukan latihan 300 kilometer dari Minamitorishima.

Pada Desember, Jepang menyampaikan protes resmi setelah pesawat tempur China dari kapal induk Liaoning mengunci radar mereka ke jet Jepang di lepas pantai Okinawa.

Seminggu kemudian, dua pesawat pengebom China dan dua pesawat pengembom Rusia melakukan latihan bersama dengan terbang di antara pulau-pulau prefektur Okinawa dan memasuki wilayah udara di atas Samudra Pasifik.

Karena insiden-insiden ini, peningkatan pengawasan terhadap wilayah-wilayah di sekitar Jepang akan menjadi tujuan utama dari revisi dokumen keamanan nasional, yang diharapkan selesai sebelum akhir tahun ini.

Jepang telah menguji coba kendaraan udara nirawak buatan AS sejak 2021. Pada 2022, Tokyo mengerahkan drone ke pangkalan udara di Kanoya, prefektur Kagoshima, Jepang selatan.

Jepang dijadwalkan memperoleh drone MQ-9B SeaGuardian pada tahun anggaran 2027. Drone ini akan ditempatkan di Chichijima dan Iwo Jima, menurut Yomiuri.

MQ-9B dibuat oleh General Atomics yang berbasis di San Diego. Drone ini dapat tetap berada di udara selama lebih dari 30 jam dan dipandu oleh satelit. Drone MQ-9B dapat dilengkapi sistem identifikasi otomatis dan perlengkapan peperangan anti-kapal selam.

Untuk mendukung kemampuan peringatan dini drone, Jepang bermaksud mengerahkan sistem radar bergerak di Iwo Jima dan Chichijima.

"Ini adalah respons Jepang terhadap penilaian ancaman dan langkah awal untuk memperkuat pengawasan," kata Yang.

"China telah meningkatkan aktivitas maritimnya di kawasan ini, dan saya yakin hal itu akan terus berlanjut di masa mendatang," imbuhnya.

Pasukan Bela Diri Darat telah memulai latihan pada akhir pekan lalu di Kepulauan Sakishima, ujung selatan prefektur Okinawa. Manuver tersebut meliputi pengerahan peluncur rudal anti-kapal Tipe 88 dan drone untuk melakukan pengintaian.

"Semua sejalan dengan langkah-langkah yang telah diambil Jepang sejak tahun lalu, yaitu mencurahkan sumber daya ke pulau-pulau yang menghadap [daratan] China serta mempersiapkan kemungkinan keadaan darurat terkait Taiwan atau gugusan pulau pertama," ujar Yang.

Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari China yang akan disatukan kembali dengan kekerasan jika perlu. Sebagian besar negara, termasuk AS dan sekutunya, tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, tetapi Washington menentang setiap upaya untuk merebut pulau yang berpemerintahan sendiri itu dengan kekerasan dan berkomitmen untuk memasoknya dengan senjata.

"Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa Jepang menanggapi tanggung jawab pertahanan negaranya dengan jauh lebih serius karena adanya ketidakpastian mengenai komitmen dan kemampuan pemerintahan AS di Indo-Pasifik," katanya.

"Jepang menyadari bahwa mereka perlu memainkan peran yang lebih besar dalam menegakkan daya pencegahan terhadap China," tutupnya.

(blq/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya