Ilustrasi tentang Dinasti Qing.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah ruang penyimpanan berpendingin udara di Provinsi Gansu, China barat laut, menjadi tempat disimpannya salah satu warisan intelektual paling berharga dalam sejarah China, yakni Siku Quanshu atau Perpustakaan Lengkap Empat Harta Karun.
Koleksi naskah kuno yang disusun pada era Dinasti Qing (1644–1911) itu dikenal sebagai ensiklopedia terbesar dalam sejarah China. Dari tujuh salinan yang pernah dibuat, kini hanya tersisa tiga setengah salinan.
Mantan direktur Museum Istana Taipei, Fung Ming-chu, mengaku haru saat akhirnya dapat melihat langsung salinan Wensuge yang disimpan di Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu.
“Keinginan saya akhirnya terwujud,” kata Fung kepada Xinhua pada Ahad (17/5/2026).
Selama bertahun-tahun, Fung dikenal sebagai penjaga salinan Wenyuange yang tersimpan di Museum Istana Taipei. Kunjungannya ke Gansu membuat dirinya kini telah menyaksikan seluruh tiga setengah salinan Siku Quanshu yang masih bertahan hingga saat ini.
Saat ini: salinan Wenyuange disimpan di Museum Istana Taipei, salinan Wenjinge berada di Perpustakaan Nasional China di Beijing, sedangkan salinan Wensuge berada di Lanzhou, Gansu.
Koleksi tersebut disimpan dalam 1.128 peti kayu kamper yang disusun rapi di ruang penyimpanan khusus. Kayu kamper dipilih karena dinilai efektif melindungi naskah dari serangga dan jamur.
Mantan peneliti Museum Istana Taipei, Chu Hui-liang, menyebut kondisi salinan Wensuge sangat terawat meski telah berusia ratusan tahun.
“Kita sering menyebut noda pada teks kuno sebagai ‘noda usia’. Tetapi salinan Wensuge hampir bebas dari tanda-tanda tersebut,” ujarnya.
sumber : Xinhua

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·