Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan seringkali diidentikkan dengan bentuk tindakan nyata seperti memberi bantuan materi atau tenaga. Padahal, ia juga bisa berupa perkataan baik yang menyejukkan hati orang lain yang mendengarkannya.
Lisan memang ringan digerakkan, tetapi dampaknya bisa membawa manfaat yang sangat besar. Sebab satu kalimat baik yang diucapkan, bisa menghidupkan kembali semangat dan harapan seseorang yang sudah hilang.
Itu sebabnya, Al-Qur’an menggambarkan perkataan yang baik laksana pohon yang tumbuh dengan akar kuar, menjulang dengan rindang, serta terus memberikan buah dari waktu ke waktu. Namun pertanyaannya, mengapa Al-Qur’an memilih pohon untuk memberikan perumpamaan perkataan yang baik?
Nah, dalam kesempatan kali ini penulis hendak menjelaskan jawaban atas perumpamaan tersebut, mulai dari makna dari perkataan yang baik, hingga alasan di balik penggunaan pohon sebagai perumpamaan darinya.
Berikut ini adalah teks dan terjemah dari ayat tersebut:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ، تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Artinya, “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah tayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit, dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim, [14]: 24-25).
Makna Perkataan yang Baik
Merujuk penjelasan Imam al-Qurthubi (wafat 671 H) dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, para ulama memiliki pendapat yang berbeda dalam memaknai frasa “kalimah thayyibah” atau perkataan yang baik dalam surat Ibrahim ayat 24 tersebut.
Menurut Ibnu Abbas, frasa “kalimah thayyibah” bermakna kalimat tauhid la ilaha ilallah, sedangkan frasa “syajarah thayyibah” atau pohon yang baik bermakna orang mukmin. Mujahid dan Ibnu Juraij memaknai frasa “kalimah thayyibah” dengan iman. Ada juga pendapat lain dari Mujahid dan Ikrimah yang memaknainya dengan pohon kurma.
Simak penjelasannya berikut ini:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَالشَّجَرَةُ الطَّيِّبَةُ الْمُؤْمِنُ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَابْنُ جُرَيْج: الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ الْإِيْمَانُ. عَطِيَّةُ الْعَوْفِيُّ وَالرَّبِيْعُ بْنُ أَنَسٍ: هِيَ الْمُؤْمِنُ نَفْسُهُ. وَقَالَ مُجَاهِدٌ أَيْضًا وَعِكْرِمَةُ: الشَّجَرَةُ النَّخْلَةُ
Artinya, “Ibnu Abbas berkata, ‘Yang dimaksud perkataan baik adalah la ilaha illallah, sedangkan pohon yang baik adalah orang mukmin.’ Mujahid dan Ibnu Juraij berpendapat, ‘Perkataan yang baik adalah iman.’ Athiyah al-Aufi dan Rabi’ bin Anas berpendapat, ‘Ia adalah orang mukmin itu sendiri.’ Mujahid juga berkata dan Ikrimah, ‘Ia adalah pohon kurma’.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, [Riyadh: Dar Alamil Kutub, 2003 M], jilid IX, halaman 359).
Berbeda dari beberapa pendapat tersebut, Syekh Muhammad Thahir bin Asyur menjelaskan bahwa kata “thayyibah” pada ayat tersebut tidak hanya bermakna kalimat tauhid saja, tetapi juga bermakna sesuatu yang bermanfaat yang dengannya dapat memberikan pengaruh baik kepada jiwa seseorang. (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia: Dar Sahnun, 1997 M], jilid XIII, halaman 224).
Pendapat yang lebih luas juga disampaikan oleh Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa frasa “kalimah thayyibah” pada ayat tersebut mencakup kalimat tauhid, ajakan untuk menjalankan ajaran Islam, serta Al-Qur’an. (Tafsir al-Munir fil Aqidah wasy Syari’ah wal Manhaj, [Damaskus: Darul Fikr, 1418 H], jilid XIII, halaman 242).
Dari beberapa penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa makna dari kalimah thayyibah tidak hanya berkaitan dengan kalimat tauhid saja, tetapi juga dapat dipahami melalui manfaat dan pengaruh baik yang ditimbulkan oleh suatu perkataan. Ia juga dapat berupa ajakan kepada ajaran Islam, nasihat yang menuntun pada kebaikan, serta ucapan yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Kemudian setelah mengetahui penafsiran para ulama tentang makna dari kalimah thayyibah tersebut, mari kita lanjut pada pembahasan selanjutnya tentang alasan mengapa Allah swt menjadikan pohon sebagai perumpamaan dari perkataan yang baik. Berikut ini ulasannya:
Alasan di Balik Perumpamaan dengan Pohon
Berkaitan dengan alasan mengapa Allah swt menjadikan pohon sebagai perumpamaan bagi perkataan yang baik, terdapat penafsiran menarik dari Syekh Muhammad Mutawalli asy-Syarawi yang penting untuk diulas dalam pembahasan ini.
Menurutnya, sebagaimana pohon yang memiliki akar kuat dan terus menghasilkan buah, perkataan yang baik juga demikian, ia dapat tertanam dalam ingatan orang yang mendengarkannya serta mendorongnya untuk melakukan kebaikan.
Setiap kali kebaikan itu dilakukan oleh orang lain karena pengaruh perkataan baik tersebut, setiap itu pula orang yang mengucapkannya akan memperoleh pahala, bahkan setelah ia meninggal dunia. Simak sebagian kutipan penjelasan Syekh Syarawi dalam kitab Tafsir asy-Syarawi berikut ini:
وَكُلَّمَا فَعَلَ السَّامِعُ لِهَذِهِ الْكَلِمَةِ فِعْلًا نَاتِجًا مِنْ تَأْثِيْرِ هَذِهِ الْكَلِمَةِ، فَإِنَّ بَعْضَ الثَّوَابِ يَعُوْدُ إِلىَ مَنْ قَالَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ حَتَّى وَلَوْ كَانَ قَدْ مَاتَ
Artinya, “Setiap kali pendengar kalimat ini melakukan kebaikan yang ditimbulkan akibat pengaruh perkataan tersebut, maka sebagian pahala akan kembali kepada orang yang mengucapkannya, meskipun ia telah meninggal.” (Tafsir asy-Syarawi, al-Khawathir, [Mathabi’ Akhbar al-Yaum, t.t.], jilid III, halaman 174).
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Allah swt mengumpamakan perkataan yang baik dengan pohon karena keduanya memiliki kesamaan dalam hal sama-sama memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Pohon yang baik memiliki akar yang kokoh, tumbuh dengan baik, lalu menghasilkan buah yang bermanfaat. Sedangkan perkataan yang baik juga sama persis dengannya. Ia memiliki pengaruh yang positif, kemudian menjadikan orang lain beramal saleh karena adanya perkataan tersebut. Bahkan, manfaatnya dapat terus mengalir meskipun orang yang mengucapkannya telah meninggal dunia.
Demikian tulisan tentang alasan mengapa Al-Qur’an mengumpamakan perkataan yang baik dengan pohon yang baik, sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat 24-25. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.
-----------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.

47 menit yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·