Setelah manusia beraktifitas seharian di pagi hingga sore hari. Maka malam hari merupakan waktu yang digunakan untuk beristirahat, tidur terlelap hingga waktu bangun tiba. Begitupula yang beraktifitas di malam hari, semisal mendapatkan shift malam. Maka pada saatnya istirahat ia akan tertidur lelap.
Tidur pada intinya merupakan saat seseorang mengistirahatkan jiwa dan raganya dari beraktifitas di dunia. Lalu kemanakah jiwa manusia saat ia sedang tertidur?
Dalam Al-Qur’an, terdapat penjelasan bahwa saat seseorang tidur maka jiwanya akan digenggam oleh Allah hingga waktu bangunnya tiba. Simak firman Allah swt dalam Surat Az-Zumar Ayat 42 berikut:
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Artinya: “Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.”
Untuk menjelaskan maksud dari ayat di atas, berikut penulis uraikan penjelasan para ahli tafsir terkait makna ayat di atas.
Korelasi dengan Ayat Sebelumnya
Terdapat dua pendapat terkait hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Pendapat pertama, ayat ini merupakan “tasliyah” atau penghibur lanjutan dari ayat sebelumnya.
Pada ayat sebelumnya, Allah swt menjelaskan bahwa Ia telah menurunkan Al-Qur’an untuk umat manusia sebagai pembawa kebenaran. Darinya, ada manusia yang beriman adapula yang tetap dalam kesesatan.
Maka pada ayat ini Allah memberikan perumpamaan untuk hidayah dan kesesatan. Sebagaimana hidup, terjaga, mati serta tidur begitu pula hidayah dan kesesatan. Semuanya merupakan ketetapan dari Allah swt. Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw tidak perlu sedih jika ada yang tidak menerima dakwahnya dan tetap dalam kesesatan.
Sebab hidayah adalah milik Allah dan tugas Nabi Muhammad ialah mengajak bukan bertanggungjawab pada keimanan seseorang. Ayat ini merupakan pengingat sekaligus cara Allah menghibur Nabi Muhammad agar tidak sedih saat ada yang menolak ajakan untuk beriman.
Keterangan tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib;
وَمَنْ عَرَفَ هَذِهِ الدَّقِيقَةَ فَقَدْ عَرَفَ سِرَّ اللَّهِ تَعَالَى فِي الْقَدَرِ، وَمَنْ عَرَفَ سِرَّ اللَّهِ فِي الْقَدَرِ هَانَتْ عَلَيْهِ الْمَصَائِبُ، فَيَصِيرُ التَّنْبِيهُ عَلَى هَذِهِ الدَّقِيقَةِ سَبَبًا لِزَوَالِ ذَلِكَ الْحُزْنِ عَنْ قَلْبِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا وَجْهُ النَّظْمِ فِي الْآيَةِ
Artinya: “Barang siapa yang mengetahui penjelasan ini maka ia telah mengetahui rahasia Allah dalam menentukan ketetapan (qadar). Barang siapa mengetahui rahasia ketetapan Allah, maka semua musibah akan terasa ringan. Oleh karenanya pengingat dari penjelasan ini dapat menjadi sebab hilangnya kesedihan pada diri Rasulullah saw. Ini merupakan alasan rangkaian ayat ini dengan ayat sebelumnya.” (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, 1420 H], juz 26, hal 456).
Kedua, ayat ini merupakan argumentasi lanjutan dari ayat sebelumnya yang menetapkan kekuasaan-Nya. Bahwa Allah merupakan Tuhan yang Maha Mengetahui yang lebih berhak disembah daripada para berhala.
Maksud Allah Menggenggam Nyawa Manusia Saat Tidur
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa pada saat seseorang tidur, maka jiwanya akan diambil dari tubuhnya. Sehingga pada saat tiba waktunya ia bangun, maka Allah akan mengembalikan jiwa ke dalam tubuhnya sampai waktu ajalnya tiba. Berbeda pada saat ajal manusia tiba, maka Allah akan menggenggam jiwanya dan tidak akan dikembalikan ke dalam tubuhnya.
Simak penjelasan Imam At-Thabari berikut berikut:
(اللَّهُ يَتَوَفَّى الأنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا) فيقبضها عند فناء أجلها، وانقضاء مدة حياتها، ويتوفى أيضا التي لم تمت في منامها، كما التي ماتت عند مماتها
Artinya: “(Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya) maka Allah akan menggenggamnya saat ajal manusia tiba dan masa hidupnya telah selesai. Allah juga menggenggam jiwa-jiwa yang belum saatnya meninggal saat ia tidur sebagaimana jiwa yang diambil saat waktu ajalnya tiba.” (Imam At-Thabari, Jamiul Bayan an Takwili ayil Qur’an, [Mekkah, Darut Turabiyah wat Turats, tt], juz 21, hal 298).
Oleh karenanya, pada kalimat selanjutnya Allah menjelaskan bahwa orang yang ajalnya telah tiba maka jiwanya tidak akan dikembalikan ke dalam badannya. Berbeda halnya orang yang tengah tidur, maka Allah akan mengembalikan jiwanya ke badannya sehingga ia bisa bangun.
Baik jiwa yang tidak dikembalikan saat seseorang wafat dan jiwa yang dikembalikan saat seseorang bangun tidur. Keduanya merupakan tanda kekuasaan dari Allah swt yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang mau untuk berpikir. Oleh karenanya, ayat ini ditutup dengan penjelasan bahwa ayat ini akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang mau berpikir akan kekuasaan-Nya.
Ke mana Jiwa Manusia Saat Manusia Tidur?
Terdapat penjelasan menarik dari para ulama ahli tafsir terkait ke mana sebenarnya jiwa manusia saat ia tidur. Salah satunya dari Ibnu Abbas, ia menjelaskan bahwa saat seorang manusia tidur maka jiwanya akan berkumpul dengan jiwa-jiwa lainnya bahkan dengan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal.
Mereka saling berkenalan satu sama lain. Hingga pada saatnya tiba, maka Allah akan mengembalikan jiwa-jiwa orang yang masih hidup dan menahan jiwa orang yang telah meninggal.
Simak penjelasan Syekh Nawawi Banten berikut:
قال ابن عباس وغيره من المفسرين: إن أرواح الأحياء والأموات تلتقي في المنام فتتعارف ما شاء الله، فإذا أراد جميعها الرجوع إلى الأجساد أمسك الله أرواح الأموات عنده، وأرسل أرواح الأحياء إلى أجسادها
Artinya: “Ibnu Abbas dan yang lainnya dari kalangan mufassirin berkata: bahwa jiwa-jiwa manusia yang hidup dan mati bertemu saat tidur. Mereka saling berkenalan satu sama lain. Hingga pada saat semua jiwa tersebut hendak kembali ke dalam badannya, maka Allah akan menahan jiwa-jiwa orang yang telah wafat di sisi-Nya dan melepaskan jiwa-jiwa orang yang masih hidup ke dalam tubuh mereka.” (Syekh Nawawi Banten, Marah Labid, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1417 H], juz 2, hal 334).
Demikian penjelasan para ulama ahli tafsir terkait makna ayat Allah menggenggam jiwa seseorang saat ia tidur, keterkaitannya dengan ayat sebelumnya dan pesan di baliknya. Wallahu a'lam.
-------------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu

1 jam yang lalu
3



English (US) ·
Indonesian (ID) ·