Tabarukan Muktamar Ke-35 NU, Prof Arikhah Soroti Peran Kiai dan Bu Nyai sebagai Teladan Generasi Pesantren

2 jam yang lalu 2

Jombang, NU Online 

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah, Besongo, Semarang, Prof Arikhah menyoroti peran Kiai dan Bu Nyai sebagai pilar pengasuhan santri, termasuk dalam perhatian terhadap kesehatan fisik dan kesehatan mental.

Hal itu ia sampaikan saat mengisi acara Tabarukan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren An-Nashriyah, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026). 

Pada kegiatan yang diinisiasi Jam'iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JPPPM) dengan mengangkat tema Peran Bu Nyai sebagai Role Model Generasi Pesantren. Prof Arikhah menegaskan pesantren perlu tetap menjaga tradisi dan nilai luhur yang diwariskan oleh para ulama. 

“Namun pada saat yang sama harus mampu membimbing santri menghadapi kompleksitas kehidupan modern dan era digital,” katanya. 

Guru Besar dalam bidang Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri (UIN) Wali Songo Semarang  itu menjelaskan rangkaian pembahasan dalam forum ini menunjukkan bahwa tantangan Bu Nyai saat ini semakin kompleks. 

Ketokohan tidak cukup dibangun hanya berdasarkan status sosial atau garis keturunan, tetapi perlu diperkuat dengan ilmu, akhlak, kepakaran, karya, kepemimpinan, dan kemampuan membaca perubahan zaman.

“Bu Nyai masa kini dituntut menjadi figur yang kuat dalam ilmu, luhur dalam akhlak, matang dalam pengasuhan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu menjadi ruang aman bagi santri.” tuturnya. 

Sementara Nyai Farida Ulfi Na’imah selaku moderator acara ini menyampaikan pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah bahwa pesantren tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti perubahan zaman. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjaga nilai-nilai fundamental pesantren sembari mengembangkan metode dan pendekatan pendidikan agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi.

Melalui Tabarukan Muktamar  Ke-35 NU, JPPPM meneguhkan kembali pentingnya peran perempuan pesantren dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, ramah, berilmu, berakhlak, berdaya, dan responsif terhadap tantangan zaman.

“Bu Nyai masa depan bukan sekadar perempuan yang tampil di depan santri. Ketika tampil, santri menemukan keteladanan, ketika berbicara, menemukan ilmu, ketika menghadapi persoalan, menemukan hikmah, dan ketika memasuki dunia digital, menemukan arah,” tandasnya. 

Baca Artikel Selengkapnya