Survei: Mayoritas Warga Palestina dan Israel tak Lagi Percaya Solusi Dua Negara

1 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, TEPI BARAT – Survei terkini dari lembaga sigi terkemuka Pew menyimpulkan sebagian besar warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur serta mayoritas warga Israel tak lagi percaya solusi dua negara bisa dicapai. Mereka tidak yakin bahwa Israel dan negara Palestina yang merdeka dapat hidup berdampingan secara damai.

Hanya 17 persen warga Israel yang menyatakan keyakinan bahwa jalan menuju hidup berdampingan secara damai dapat ditemukan, sementara 56 persen berpendapat sebaliknya. Di kalangan warga Palestina yang disurvei di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, 21 persen menyatakan bahwa hidup berdampingan itu mungkin terjadi, sedangkan 68 persen menyatakan tidak mungkin.

Hasil survei di kalangan warga Israel ini mencatat angka terendah dalam lebih dari satu dekade jajak pendapat Pew mengenai isu tersebut. Proporsi responden yang meyakini kemungkinan hidup berdampingan telah turun ke tingkat terendah pada tahun 2025 dan tidak banyak berubah pada tahun 2026.

Tahun 2026 menandai kali pertama lebih dari separuh responden Israel secara tegas menyatakan bahwa hal itu mustahil.

Di kalangan warga Israel keturunan Yahudi, 16 persen menyatakan bahwa solusi dua negara mungkin terwujud, sementara 64 persen menyatakan sebaliknya. Di kalangan warga Israel keturunan Arab, 46% menyatakan tidak tahu atau menolak menjawab, sedangkan 23 persen  menyatakan bahwa hidup berdampingan secara damai mungkin dilakukan dan 26 persen  menyatakan tidak mungkin.

Pew menyurvei 1.001 orang di Israel dan 1.038 warga Palestina di Tepi Barat serta Yerusalem Timur. Wawancara dengan warga Israel dilakukan pada 5 April hingga 6 Mei, sedangkan wawancara dengan warga Palestina berlangsung pada 30 Maret hingga 28 April, menggunakan bahasa Ibrani dan bahasa Arab.

Di antara mereka yang menolak kemungkinan hidup berdampingan, perbedaan pendapat mengenai wilayah menjadi salah satu alasan yang paling sering dikemukakan oleh kedua belah pihak. Sebagian berpendapat bahwa pembagian wilayah tidak lagi realistis, sementara yang lain menyatakan bahwa kedaulatan atas wilayah tersebut seharusnya menjadi hak eksklusif pihak mereka sendiri.

Responden Israel yang menentang pembentukan negara Palestina seringkali menyoroti masalah keamanan. Seorang pria Yahudi Israel berusia 43 tahun menyatakan keengganannya mengambil risiko jika Palestina memiliki negara sendiri, menjadi lebih kuat, dan mempersenjatai diri dengan posisi perbatasan yang dekat dengan tempat tinggalnya. Responden lain, seorang pria Yahudi Israel berusia 57 tahun, berkata: "Mereka tidak ingin hidup berdampingan dengan kita, melainkan ingin menempati tempat kita."

Sebaliknya, Pew menemukan bahwa banyak warga Palestina menunjuk kendali Israel atas Tepi Barat dan Yerusalem Timur, permukiman, serta pos pemeriksaan sebagai hambatan utama. Seorang perempuan Palestina berusia 19 tahun berkata: "Ini adalah wilayah yang diduduki; tidak ada keamanan, pergerakan antar-kota sulit dilakukan, dan terdapat pos-pos pemeriksaan."

Pertumpahan darah, baik di masa lalu maupun baru-baru ini, juga menjadi faktor utama dalam penjelasan dari kedua belah pihak. Sebagian warga Israel keturunan Yahudi secara eksplisit menyebut serangan pejuang Palestina pada 7 Oktober sebagai titik di mana mereka kehilangan keyakinan terhadap solusi dua negara. "Sejak peristiwa 7 Oktober, saya kehilangan seluruh kepercayaan terhadap rakyat Palestina maupun solusi dua negara bagi kedua bangsa," ujar seorang pria Israel keturunan Yahudi berusia 36 tahun.

Responden Palestina juga mengemukakan hal serupa, merujuk pada kematian, kehancuran, dan kekerasan yang terjadi selama perang yang menyusul peristiwa tersebut. "Mereka merampas tanah kami dan membunuh rakyat kami, dan itu sudah cukup. Saudara laki-laki saya tewas terbunuh," kata seorang wanita Palestina berusia 31 tahun.

Baca Artikel Selengkapnya