Jakarta, CNN Indonesia --
Permukaan air Sungai Rhine di Jerman terus menyusut hingga mencetak rekor terendah seiring terjadinya gelombang panas yang melanda Eropa.
Data Badan Perairan dan Pelayaran Federal Jerman (WSV) menunjukkan tinggi muka air di titik Kaub, dekat Koblenz, turun menjadi hanya 6 sentimeter pada Jumat (14/8) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Sabtu (15/8) pagi, ketinggian air di titik tersebut berada di angka 8 sentimeter.
Angka itu lebih rendah dibandingkan rekor sebelumnya sebesar 25 sentimeter yang tercatat pada 2018.
Sebelumnya, pada Jumat pagi, tinggi muka air di Kaub tercatat 10 sentimeter.
Meski demikian, kedalaman Sungai Rhine sebenarnya sekitar satu meter lebih dalam dibandingkan angka pada alat ukur tersebut. Pengukur di Kaub secara tradisional digunakan sebagai indikator kondisi lokal sungai.
Ketinggian air di Kaub terakhir kali berada di atas 78 sentimeter pada pertengahan Juli.
Menurut Kiel Institute for the World Economy, jika ketinggian air di Kaub berada di bawah 78 sentimeter selama 30 hari berturut-turut, produksi industri dapat turun sekitar 1 persen.
Kondisi serupa disebut pernah terjadi pada 2018 dan 2022.
Dikutip dari Reuters, Sungai Rhine merupakan salah satu jalur transportasi terpenting di Eropa.
Sungai ini digunakan untuk mengangkut bahan kimia, komoditas, bahan bakar, dan berbagai barang lainnya.
Surutnya permukaan air membuat sebagian besar pengangkutan harus dialihkan ke truk dan kereta.
Sejumlah perusahaan Jerman mulai melaporkan gangguan akibat rendahnya permukaan Sungai Rhine.
Produsen bahan kimia, perusahaan utilitas, produsen baja, hingga pedagang komoditas pertanian menyebut kondisi ini bisa memicu peningkatan biaya, hambatan transportasi, dan potensi penurunan produksi.
(lom)

1 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·