Sudah Gandeng Rusia, Mengapa Harga Solar di AS Tetap Melejit Dekati Rekor Tertinggi?

59 menit yang lalu 2

JAKARTA — Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekan harga bahan bakar melalui kesepakatan pasokan solar dengan Rusia menghadapi persoalan baru. Setelah Ukraina dilaporkan menghentikan sementara serangan terhadap kilang minyak Rusia akibat tekanan Washington, serangan drone kembali menghantam fasilitas pengolahan minyak Moskow pada Jumat (30/10/2026), sementara harga solar Amerika masih bertahan mendekati rekor tertinggi menjelang pemilu paruh waktu.

The Wall Street Journal pada Kamis (29/10/2026) mengungkap bahwa militer Ukraina telah menghentikan sementara serangan terhadap kilang-kilang Rusia setelah berminggu-minggu menghadapi tekanan pemerintahan Trump. Namun, dalam laporan terbarunya pada Jumat (30/10/2026), media tersebut menyebut Ukraina kembali menyerang kilang Novokuibyshevsk di wilayah Samara, Rusia, sehingga mengakhiri jeda serangan yang berlangsung sekitar dua pekan.

Perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi kebijakan energi Trump yang sebelumnya mengumumkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk meningkatkan pasokan solar ke pasar internasional. Washington telah memberikan pelonggaran sanksi terhadap transaksi solar Rusia, tetapi langkah tersebut belum menghasilkan penurunan harga bahan bakar yang berkelanjutan di Amerika Serikat.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA), harga rata-rata solar nasional mencapai 6,352 dolar AS per galon pada Senin (26/10/2026). Angka tersebut meningkat selama dua pekan berturut-turut dan mendekati level 6,529 dolar AS per galon yang tercatat pada 21 September 2026.

Situasi semakin kompleks karena Rusia justru sedang menyiapkan peningkatan ekspor solar setelah produksi kilang-kilangnya mulai pulih. Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada Jumat mengatakan Moskow berencana mengekspor 2,15 juta ton solar pada November, meskipun pemerintah masih mempertahankan sejumlah pembatasan ekspor bahan bakar.

Dengan demikian, kesepakatan energi Washington dan Moskow kini berada dalam persimpangan antara kepentingan ekonomi Amerika, kemampuan Rusia meningkatkan ekspor, dan strategi militer Ukraina untuk menekan sumber pendapatan Kremlin. Di tengah berbagai perkembangan tersebut, efektivitas kebijakan Trump dalam menurunkan harga solar belum dapat dipastikan.

Ukraina Sempat Hentikan Serangan Kilang Akibat Tekanan Trump

Laporan investigasi The Wall Street Journal pada 29 Oktober mengungkap bahwa satuan militer Ukraina yang menjalankan operasi serangan jarak jauh menerima instruksi pada pertengahan Oktober untuk menghentikan sementara serangan terhadap kilang minyak Rusia. Penghentian tidak resmi tersebut diberlakukan setelah operasi yang telah berjalan diselesaikan dan semula diperkirakan berlangsung hingga setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut, tekanan Washington meningkat ketika Trump semakin frustrasi terhadap serangan Ukraina yang dianggap memperburuk harga bahan bakar global. Pemerintahan Amerika Serikat juga sedang berusaha memulihkan perundingan perdamaian dengan Moskow dan memandang pengurangan serangan terhadap fasilitas energi sebagai salah satu langkah yang dapat mendukung proses diplomatik.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa utusan Trump, Jared Kushner, kembali meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghentikan serangan kilang dalam pertemuan di Oslo pada 20 Oktober. Kushner menyampaikan bahwa dirinya bersama Steve Witkoff telah menginvestasikan banyak waktu dan tenaga dalam upaya perundingan dengan Rusia sehingga penghentian serangan selama 30 hari dipandang sebagai langkah yang dapat membantu diplomasi.

Namun, penghentian sementara tersebut tidak pernah diumumkan sebagai kebijakan resmi pemerintah Ukraina. Zelenskyy juga menyatakan tidak ada perintah formal yang melarang militer negaranya menyerang fasilitas pengolahan minyak Rusia apabila tindakan tersebut dianggap diperlukan.

Reuters pada Jumat (30/10/2026) turut memberitakan pengungkapan The Wall Street Journal, tetapi menegaskan belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Dengan demikian, informasi mengenai tekanan Amerika dan instruksi penghentian operasi harus tetap dipahami sebagai temuan jurnalistik berdasarkan keterangan sejumlah sumber, bukan kesepakatan resmi yang telah diumumkan kedua pemerintah.

Di tengah laporan mengenai penghentian sementara itu, Rusia dilaporkan terus melancarkan serangan terhadap fasilitas energi dan infrastruktur sipil Ukraina. Kondisi tersebut menjadi sumber ketegangan karena Kyiv menginginkan penghentian serangan yang bersifat timbal balik, bukan pembatasan sepihak terhadap kemampuan militernya.

Serangan Baru Hantam Kilang Rusia

Perkembangan terbaru pada Jumat (30/10/2026) menunjukkan jeda serangan terhadap kilang Rusia kemungkinan telah berakhir. The Wall Street Journal melaporkan Ukraina menyerang fasilitas pengolahan minyak Novokuibyshevsk di wilayah Samara, sekitar dua pekan setelah serangan terakhir terhadap kilang Rusia yang tercatat pada pertengahan Oktober.

Laporan itu didukung pemberitaan Kyiv Post dan sejumlah media independen yang memantau perkembangan perang Rusia-Ukraina. Foto serta rekaman video yang beredar memperlihatkan kepulan asap dan api di kawasan yang diidentifikasi sebagai kilang Novokuibyshevsk, meskipun rincian kerusakan fasilitas belum dapat dipastikan secara independen.

Baca Artikel Selengkapnya