Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dirancang fleksibel agar mampu merespons berbagai perubahan kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik dan volatilitas harga komoditas.
Menurut dia, APBN berperan sebagai peredam guncangan (shock absorber) untuk menjaga perekonomian ketika menghadapi berbagai tekanan, termasuk perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
”APBN harus dijalankan dengan cukup fleksibel, karena harus bisa beradaptasi dengan yang namanya kondisi dunia yang berubah,” kata Suahasil di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan APBN memang ditetapkan melalui undang-undang, namun pelaksanaannya harus tetap dapat menyesuaikan dengan perkembangan situasi.
"Lalu kondisi dunia berubah ketegangan geopolitik muncul, tiba-tiba Amerika dengan Iran main perang, tiba-tiba bencana alam, tiba-tiba volatilitas harga komoditas," kata Menkeu.
Suahasil menuturkan sejumlah instrumen APBN dapat digunakan sebagai penyangga ketika perekonomian menghadapi tekanan. Instrumen tersebut antara lain subsidi dan kompensasi energi, subsidi pupuk, program perlindungan sosial, serta pembangunan infrastruktur.
Meski demikian, fleksibilitas APBN bukan berarti pemerintah dapat menggunakan anggaran tanpa batas.
"Tapi enggak boleh fleksibel dan semau-maunya. Fleksibel, tapi dengan tata kelola yang baik," katanya.
Pelaksanaan APBN tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
Penyesuaian anggaran juga dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan kondisi ekonomi, termasuk pergerakan harga minyak.
Terkait APBN 2026, Bendahara Negara itu mengatakan pemerintah terus melakukan rekalibrasi terhadap anggaran untuk menyesuaikannya dengan perkembangan ekonomi.
“Dari APBN awal tersebut, kami terus melakukan rekalibrasi, sehingga pada bulan Juni kemarin, kita melihat outlook penerimaan bisa sedikit naik karena harga komoditas ini naik, karena Coretax sudah bekerja dengan baik lalu kemudian belanja juga bisa sedikit naik, dan tentu defisit APBN-nya juga naik,” ujarnya.
Baca juga: Suahasil sebut Danantara tidak setorkan dividen ke APBN 2026 dan 2027
Baca juga: Menkeu: Penerimaan bea cukai capai Rp240,28 triliun per September
Baca juga: Banggar DPR: Setiap rupiah APBN 2027 harus makin bermakna bagi rakyat
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·