Suahasil komitmen jaga momen pertumbuhan sekaligus kredibilitas APBN

45 menit yang lalu 2

Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan komitmennya untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menjaga kredibilitas APBN dengan mencari keseimbangan di antara keduanya.

Hal itu disampaikan Suahasil dalam pidatonya pada Memorial Lecture dengan merefleksikan pengalaman dan warisan pemikiran mantan Menteri Keuangan Frans Seda pada periode 1966-1968.

“Sebagai perwakilan pemerintah, saya akan terus berusaha menjaga momentum pertumbuhan sekaligus kredibilitas APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Kombinasi yang harus kita cari imbangannya,” kata Suahasil di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis.

Frans Seda menerapkan konsep anggaran berimbang, yakni menyesuaikan belanja terhadap kemampuan negara mengumpulkan pendapatan atau konsolidasi fiskal. Suahasil menyampaikan, konsep ini tetap relevan hingga masa sekarang.

Baca juga: Menkeu: APBN 2027 dirancang pruden di tengah ketidakpastian global

Ketika Frans Seda menjabat Menteri Keuangan pada 1966, Indonesia mengalami hiperinflasi hingga mencapai 650 persen.

Menghadapi kondisi tersebut, ditambah cadangan devisa yang juga habis, ekspor yang tertahan, dan utang luar negeri yang sangat masif, Frans Seda kemudian berhasil menurunkan inflasi secara bertahap hingga ke level 85 persen pada 1968.

“Saya membayangkan bagaimana Frans Seda mengimbangkannya, bagaimana supaya tetap menumbuhkan, bagaimana mengundang sektor usaha bekerja, tapi kemudian bagaimana melindungi masyarakat secara umum. Sehingga dengan kredibilitas APBN, saya rasa stabilitas ekonomi, akselerasi pembangunan, dan kepercayaan pasar dapat kita jaga dengan baik,” kata Suahasil.

Ia mengingatkan bahwa gejolak ekonomi boleh berbeda-beda dari masa ke masa, namun prinsip menjaga kredibilitas fiskal tetap sama pentingnya.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya