Stok Rudal AS Menipis di Perang Iran, Pabrik Senjata Dikebut 24 Jam

14 jam yang lalu 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri pertahanan Amerika Serikat sedang berpacu dengan waktu. Pabrik rudal milik RTX di Tucson, Arizona, kini bekerja sepanjang waktu untuk meningkatkan produksi Tomahawk dan berbagai munisi lain setelah operasi militer AS melawan Iran menguras persediaan senjata berpresisi tinggi.

Masalahnya, peningkatan kapasitas produksi tidak bisa mengejar kecepatan penggunaan rudal di medan perang. Sejumlah kontraktor memang tengah membangun lini baru, merekrut ratusan pekerja, dan menggelontorkan investasi miliaran dolar, tetapi sebagian besar tambahan produksi baru akan tersedia setelah jeda yang panjang.

Sebagaimana diberitakan The Wall Street Journal pada Ahad, 28 September 2026, RTX sedang meningkatkan produksi Tomahawk di Tucson di tengah kekhawatiran bahwa cadangan rudal Amerika Serikat dan sekutunya telah terkuras. Pabrik tersebut menjadi salah satu titik utama upaya Pentagon membangun kembali persediaan senjata setelah perang Ukraina dan konflik Iran memperlihatkan betapa cepat munisi modern dapat dihabiskan.

Situasi yang sama terjadi pada Patriot. Lockheed Martin menambah ratusan pekerja di Arkansas dan berusaha melipatgandakan produksi rudal pencegat PAC-3 MSE hingga tiga kali lipat. Reuters pada Kamis, 17 September 2026, melaporkan Lockheed Martin juga mulai menerima komponen penting Patriot dari General Motors Defense sebagai bagian dari upaya memperluas basis manufaktur pertahanan AS.

Boeing, L3Harris, Northrop Grumman, serta pemasok lain turut membangun fasilitas baru untuk memproduksi komponen elektronik, motor roket, dan bagian-bagian penting sistem rudal. Namun perang modern telah memperlihatkan persoalan mendasar: membangun satu lini produksi baru bisa memerlukan waktu bertahun-tahun, sedangkan ratusan bahkan ribuan munisi dapat digunakan hanya dalam beberapa bulan.

“Para menteri pertahanan mempunyai dompet tebal, tetapi ketika mereka masuk ke toko, rak-raknya kosong,” kata mantan Ketua Komite Militer NATO, Laksamana Rob Bauer, sebagaimana dikutip The Wall Street Journal pada Ahad, 28 September 2026. Ia menggambarkan frustrasi negara-negara Barat yang telah meningkatkan anggaran pertahanan, tetapi tidak selalu bisa langsung mengubah uang tersebut menjadi rudal siap pakai.

Tomahawk Dipakai Lebih Cepat daripada Diproduksi

Tomahawk sebenarnya bukan sistem baru. Rudal jelajah jarak jauh itu telah digunakan sejak dekade 1980-an, tetapi tetap menjadi salah satu senjata serang utama Amerika Serikat untuk menghantam sasaran dari kapal perang maupun kapal selam dalam jarak jauh.

Selama bertahun-tahun, produksi Tomahawk berjalan dalam jumlah relatif terbatas. Pesanan Pentagon pernah turun begitu rendah sehingga pengurangan tambahan bahkan berpotensi membuat lini produksinya tidak ekonomis untuk dipertahankan. Program modernisasi rudal-rudal lama kemudian ikut menjaga pabrik di Tucson tetap beroperasi.

Kondisinya berubah drastis setelah perang Ukraina dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Pentagon mulai menyadari bahwa persenjataan berteknologi tinggi yang diproduksi dalam jumlah kecil pada masa damai bisa habis jauh lebih cepat ketika digunakan dalam konflik intensitas tinggi.

The Wall Street Journal melaporkan Angkatan Laut AS pada Agustus mengeluarkan rencana pesanan Tomahawk senilai sekitar 23 miliar dolar AS untuk periode tujuh tahun. RTX menargetkan kapasitas produksi jangka panjang lebih dari 1.000 Tomahawk per tahun, sementara produksinya tahun ini diperkirakan melampaui 400 unit.

Angka itu memperlihatkan besarnya kesenjangan antara produksi dan penggunaan. Menurut laporan yang sama, Amerika Serikat telah menembakkan lebih dari 1.000 Tomahawk hanya dalam sekitar dua bulan perang melawan Iran. Center for Strategic and International Studies memperkirakan AS telah menggunakan sekitar sepertiga persediaan Tomahawk yang dimiliki sebelum konflik Iran serta sekitar separuh rudal pencegat Patriot kelas atas.

Dengan kata lain, bahkan kapasitas produksi 1.000 Tomahawk per tahun belum tentu cukup untuk segera mengganti senjata yang dapat dikonsumsi dalam hitungan bulan pada perang berintensitas tinggi.

Baca Artikel Selengkapnya