Siluman Saja Tak Cukup? Ini Senjata Tak Terlihat F-35 Menghadapi Radar Musuh

51 menit yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jet tempur siluman F-35 Lightning II akan mendapatkan penguatan kemampuan peperangan elektronik untuk menghadapi radar, rudal, drone, dan jaringan pertahanan udara yang semakin kompleks. BAE Systems pada Selasa (6/10/2026) mengumumkan menerima kontrak baru dari Lockheed Martin untuk memasok sistem AN/ASQ-239 bagi tiga batch produksi F-35 mendatang, yakni Lot 20 hingga Lot 22, sekaligus memodernisasi pesawat-pesawat yang sudah beroperasi.

Nilai kontrak dan jumlah perangkat yang akan diproduksi belum diumumkan. Namun, kontrak tersebut penting karena tidak hanya mencakup F-35 baru, tetapi juga perangkat retrofit yang memungkinkan sebagian armada lama memperoleh kemampuan peperangan elektronik lebih mutakhir tanpa harus menunggu pesawat pengganti. BAE Systems

Pentagon pada tahun ini juga mengusulkan percepatan pengadaan 200 paket modifikasi Block 4, sementara program tersebut selama beberapa tahun menghadapi keterlambatan pengembangan perangkat keras dan perangkat lunak.

Pada saat bersamaan, jumlah F-35 yang beroperasi terus bertambah. Reuters melaporkan Lockheed Martin mengirimkan rekor 191 unit F-35 sepanjang 2025, ketika peningkatan belanja pertahanan global mendorong percepatan produksi pesawat tempur tersebut. Reuters

Bertempur Sebelum Rudal Ditembakkan

AN/ASQ-239 bukan radar utama F-35. Sistem ini merupakan perangkat peperangan elektronik terintegrasi yang membantu pesawat membaca apa yang terjadi di spektrum elektromagnetik di sekitarnya.

Dalam perang udara modern, ancaman tidak selalu pertama kali terlihat sebagai pesawat atau rudal. Emisi radar dapat mengungkap keberadaan sistem pertahanan udara, pesawat lawan, atau sensor yang sedang mencari dan melacak sasaran.

Karena itu, kemampuan mengenali sinyal lebih awal dapat menjadi bagian penting dari pertahanan F-35. BAE Systems menyatakan AN/ASQ-239 menggunakan pengindraan pasif jarak jauh, pemrosesan sinyal berkecepatan tinggi, bandwidth luas, dan algoritma untuk mendeteksi serta mengidentifikasi ancaman sebelum pilot menentukan respons.

Sistem tersebut memberikan kesadaran situasional 360 derajat terhadap lingkungan elektromagnetik. Informasi itu dapat membantu pilot menentukan apakah ancaman perlu dihindari, dilawan, ditangkal, atau diganggu secara elektronik.

Keunggulan sensor pasif menjadi penting karena pesawat tidak harus terus-menerus memancarkan sinyal sendiri untuk mengetahui aktivitas elektromagnetik di sekitarnya. Dalam ruang udara yang dipenuhi radar dan sensor lawan, kemampuan mengamati tanpa banyak “berbicara” dapat membantu mempertahankan keunggulan taktis pesawat siluman.

Namun, rincian mengenai jangkauan deteksi, frekuensi yang dipantau, algoritma pengenalan ancaman, dan teknik jamming AN/ASQ-239 tidak dipublikasikan secara terperinci. Banyak parameter operasional sistem peperangan elektronik F-35 tetap menjadi informasi sensitif.

Ancaman Berubah Lewat Software

Salah satu tantangan terbesar peperangan elektronik adalah musuh tidak harus membangun sistem senjata baru untuk mengubah ancaman. Pola pancaran radar, frekuensi, teknik pencarian, serta karakteristik emisi dapat diubah melalui perangkat lunak.

Karena itulah BAE Systems menekankan arsitektur AN/ASQ-239 yang dapat diperbarui melalui software. Pembaruan memungkinkan database ancaman dan kemampuan respons beradaptasi tanpa mengganti keseluruhan perangkat keras di pesawat.

“Kami terus mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak EW kami,” kata Wakil Presiden F-35 Solutions BAE Systems Amber Dolan. Ia mengatakan perusahaan berfokus meningkatkan produksi sekaligus mempercepat pengiriman kemampuan berbasis perangkat lunak untuk mengikuti kecepatan perubahan konflik.

Logika tersebut semakin penting dalam peperangan udara modern. Pesawat yang secara fisik sama dapat menghadapi lingkungan elektronik yang berbeda hanya dalam hitungan bulan karena radar, rudal, drone, dan jaringan sensor lawan terus diperbarui.

Baca Artikel Selengkapnya