Siapa Staf Laboratorium Wabah di Rusia yang Tewas Tertular Diduga Pes?

46 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang staf perempuan di laboratorium penelitian wabah Rusia meninggal dunia pekan lalu usai terjangkit infeksi misterius yang belakangan diduga plague atau pes.

Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan perempuan 28 tahun bernama Darya Shipilova tersebut meninggal dunia setelah sakit pneumonia "yang penyebabnya tidak diketahui".

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

CNN Indonesia merangkum fakta-fakta mengenai kematiannya:

Sakit usai pecahkan tabung berisi bakteri pes

Dilansir dari CBS News, media Rusia melaporkan bahwa Shipilova meninggal setelah terpapar wabah pes dalam kecelakaan laboratorium di Institut Anti-Wabah Irkutsk.

Laporan awal menyebutkan bahwa Shipilova memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri pes Yersinia pestis pada akhir September. Ia kemudian menderita pneumonia berat dan meninggal karena penyakitnya pada 2 Oktober.

Para pejabat Rusia meragukan laporan kecelakaan tersebut. Rospotrebnadzor membantah dan menegaskan tidak ada kecelakaan di laboratorium.

1 RS dan 200 orang dikarantina

Menurut laporan sejumlah media, setidaknya satu fasilitas di sebuah rumah sakit saat ini dikarantina menyusul insiden tersebut. Fasilitas ini tempat yang bersangkutan dirawat sebelum meninggal.

Selain itu, nyaris 200 orang yang berkontak dekat dengannya juga dilaporkan di bawah pengawasan medis.

WHO desak Rusia transparan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku diberi tahu oleh Rusia pada 6 Oktober bahwa tidak ada wabah yang terdeteksi

Badan kesehatan global itu telah meminta pihak berwenang Kremlin memberikan informasi tentang patogen apa yang menyebabkan penyakit Shipilova.

Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa (6/10) meminta Rusia bersikap transparan atas insiden ini.

"Berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional sangat penting untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan dan memungkinkan penilaian akurat terhadap potensi risiko kesehatan masyarakat," tulisnya di media sosial X.

Trump telpon Putin

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan segera menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas soal kematian Shipilova.

Pernyataan ini disampaikan setelah Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendesak Rusia untuk bersikap terbuka mengenai situasi ini.

"Saya sudah menjadwalkan panggilan telepon," kata Trump di Gedung Putih.

Apa itu wabah pes?

Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Ada tiga jenis utama penyakit pes: bubonik, septikemik, dan pneumonik.

Wabah pes bubonik adalah bentuk wabah paling umum. Orang yang terinfeksi mungkin mengalami pembengkakan kelenjar getah bening menyakitkan yang dikenal sebagai bubo, bersamaan dengan demam dan menggigil, sakit kepala hebat, nyeri badan, dan kelelahan.

Wabah septikemia sementara itu terjadi ketika bakteri Yersinia pestis masuk ke aliran darah. Pasien dapat mengalami demam, menggigil, kelemahan ekstrem, nyeri perut, syok, dan kemungkinan pendarahan internal. Beberapa bagian kulit dapat menghitam dan mati.

Wabah pneumonia di sisi lain biasanya terjadi ketika bentuk wabah lainnya tidak diobati dan bakteri Yersinia pestis menginfeksi paru-paru.

Pasien mengalami pneumonia dan dapat menunjukkan gejala demam, sakit kepala, lemas, sesak napas, nyeri dada, batuk, dan lendir berdarah atau encer. Pneumonia dapat menyebabkan gagal napas.

Penyakit ini dianggap sebagai bentuk wabah yang paling serius, dan selalu berakibat fatal jika tidak segera diobati.

Wabah pes sering menyebar melalui gigitan kutu yang dibawa oleh hewan pengerat yang terinfeksi. Hewan seperti kucing dan anjing juga dapat terinfeksi karena memakan hewan yang lebih kecil yang membawa kutu tersebut.

Penyakit pes paru dapat menular antar manusia. Dalam kasus ini, penularan terjadi melalui tetesan yang keluar saat batuk.

Organisasi kesehatan dan dokter mengatakan wabah pes dapat diobati dengan sukses menggunakan antibiotik. Pasien perlu diobati sesegera mungkin.

Para peneliti yang secara rutin bekerja dengan penyakit pes juga dapat divaksinasi terhadap penyakit tersebut.

Wabah penyakit pes di Abad Pertengahan menewaskan jutaan orang, karena infestasi kutu dan tikus yang meluas dan umum terjadi, serta kurangnya pemahaman tentang cara mencegah penyebaran penyakit.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sekitar tujuh kasus wabah dilaporkan setiap tahun di Amerika Serikat. Lebih dari 80 persen kasus di AS adalah wabah pes bubonik.

Sebagian besar kasus di AS terjadi di wilayah Barat dan Barat Daya. Menurut data CDC, kasus-kasus tersebut biasanya berhasil diobati. Kasus kematian akibat wabah pes terakhir di AS tercatat pada tahun 2021.

(blq/rds)

Baca Artikel Selengkapnya